Minggu, 15 Maret 2015

0 Mencontek itu Sampah!


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Mencontek itu Sampah!

Dalam kamus mengerjakan soal, memang dinyatakan kalau soal-soal mudah itu dikerjakan terlebih dahulu kebanding soal yang susah. Memang sudah dari sananya, dan kebanyakan orang yang melakukan hal tersebut saat mengerjakan soal. Namun demikian, kesulitan tetap menjadi kendala utama dalam mengerjakan soal yang di dalamnya itu ada sedikit banyak kesulitan, bahkan mengerjakan soal itu sendiri secara keseluruhan. Bayangkan kesulitan dalam soal dan kesulitan soal itu sendiri.
Kira-kira mana yang lebih mudah dikerjakan diantara keduanya? Semua jelas akan memilih mengerjakan kesulitan dalam soal itu saja, kebanding kesulitan soal itu sendiri. Mengapa demikian karena kesulitan dalam soal itu, artinya tidak semua point dalam soal tersebut sulit dikerjakan. Sedangkan kesulitan soal itu sendiri, artinya adalah soal tersebut susah dikerjakan dengan kapasitas keseluruhan pada tiap point tersebut, jadi semua point dalam soal tersebut susah dikerjakan.
 Kesulitan juga tidak hanya melanda saat mengerjakan soal saja, tetapi juga melanda masalah, polemik, persoalan lain. Ada yang susah menjalani hidup, ada yang susah bekerja keras dan bermalas-malasan, ada yang susah melawan kebodohan, dan jenis-jenis kesusahan-kesusahan lainnya. Ini seperti bunga tidur yang terus menghiasi tidur kita, seakan kesusahan sudah menjadi perekat hidup, dan tanpanya kita tidak akan bisa menjangkau keberhasilan, menjangkau stabilitas, dan menjangkau kepuasan tersendiri.
Alih-alih kita ingat kesulitan mengerjakan soal, sekarang ini adik-kakak kita yang duduk di bangku akhir, ada yang kelas 6 SD, kelas 3 SMP, dan kelas 3 SMA, segera akan menghadapi ujian nasional untuk naik ke jenjang berikutnya. Ujian nasional adalah kesulitan bagi mereka, dan mereka dengan jalannya masing-masing akan berusaha melewati kesulitan tersebut. Pesan saya yang pertama untuk adik-kakak saya sekalian (yang segera akan mengikuti ujian nasional) yang penting jangan sampai nyontek, karena mencontek bukanlah kosa kata dalam pendidikan, melainkan kosa kata dalam pembodohan. Tahukah anda bahwa pembodohan itu juga sebuah kesulitan, nyontek juga merupakan sebuah kesulitan. Jadi sudah bisa dicerna bukan, kesulitan itu seperti apa.

Sabtu, 13 Desember 2014

0 Islam Liberal; Antara Harta, Tahta, dan Wanita (Sebuah Refleksi untuk Remaja)


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Islam Liberal; Antara Harta, Tahta, dan Wanita
(Sebuah Refleksi untuk Remaja)


Di saat krisis moneter yang berkepanjangan ini, sudah saatnya kita menjawab serta menguak apa di balik tabir keleluasaan liberalisme ini. Globalisme telah menjangkau hampir semua cakupan lingkup. Namun apa daya, seandainya globalisme ini dibarengi oleh kehidupan yang memperdaya, dimana kebebasan tidak lagi diatur dengan kapasitas sewajarnya. Inilah yang saya maksudkan, liberalisme! Sudah sejak lama kita termakan oleh banyaknya kengerian liberalisme ini. Pemuda-pemuda kita diserang banyak paham pembinasaan karakter, termasuk liberalisme ini. Mereka dicekoki dengan pemberdayaan kebebasan yang ujungnya penyelewengan terhadap norma-norma.
Liberalisme sudah sejak lama menebarkan virus-virus kebebasan berlebih-lebihan, bahkan tiada batas. Dari mulai politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan bidang lainnya, liberalisme tak akan pernah jera menanamkan benih-benih juhal yang menurut kaum modern dianggap sebagai jalan menyenangkan dan terbaik. Padahal sudah jelas ada jalan keselamatan tanpa batas, yaitu islam rahmatan lil alamien, padahal ada akhirat yang berada di ujung penantian (setelah alam barzah), dimana kita akan ditentukan tempat yang sesuai dengan amal perbuatan kita, antara surga dan neraka. Dan mereka belum menyadarinya bahwa semakin mereka mengarah pada pendalaman sisi hitam tersebut, maka semakin pula kesesatan menguasai pikiran-pikiran mereka, hingga mereka turut menyesatkan.
Bagaimana tidak! Mereka bukan saja sesat, tetapi juga menyesatkan. Islam sudah jelas agama yang ditentukan dengan tinjauan historis, filosofis, teoritis yang absah. Tetapi ada saja gerakan hitam-putih yang mengaitkan islam dalamnya, ada saja gerakan yang dibangun atas dasar keraguan, dan ada saja gerakan juhal (gagal) yang mengatasnamakan islam.       
Dalam agama islam, sudah jelas menyandarkan pemikiran ini pada sisi terlarang. Dimana sisi otentik dan membangun dari paham gagal ini tidaklah terbukti jalan kebenarannya. Paham ini menamakan dirinya lebih khusus lagi, yakni sebagai islam liberal. Kok bisa islam ditambah dengan liberal. Padahal islam ya islam! Liberal ya liberal, tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Ibarat saja seperti orang! Orang merupakan sebutan selain manusia. Namun akan berbeda artinya seandainya orang ini ditambahi dengan “utan” yang kemudian menjadi orang utan. Apa makna dibalik orang utan? Anda pasti tahu dan mengerti bukan! Dimana-mana orang utan itu adalah serupa dengan monyet. Apakah anda mau dikatakan monyet? Tidak... pasti anda tidak akan mau. Kecuali bila anda seorang Darwinis.
Begitu halnya dengan islam liberal, apakah anda mau dikatakan islam liberal? Padahal anda seorang muslim. Seorang muslim yang taat pada aturan, norma, nilai-nilai hukum, pasti tidak mau dikatakan islam liberal. Jadi kalau ada seorang muslim bangga dengan keliberalannya, maka perlu dipertanyakan keislamannya. Itu jelas diperuntukan bagi muslim yang masih belum jelas keislamannya, dan mesti diperhatikan secara serius. Karena islam bukanlah agama yang bisa dipermainkan ideologinya, syariatnya, bahkan penamaannya begitu saja.  
Paham islam liberal dengan cepat menyebar di kalangan umat islam di Indonesia. Lantaran gerakan mereka begitu leluasa, sampai-sampai dapat memasuki area pondok pesantren yang merupakan titik-titik sentral islam nusantara. Banyak pemuda yang sudah terpengaruh dengan pemahaman mengerikan ini, termasuk pemuda pesantren. Itu berarti paham gagal dan juga juhal ini, telah berhasil mempermainkan sebagian dari generasi penerus bangsa. Akan sangat berbahaya sekali jika keadaan ini terus melonjak, meningkat seiring waktu berjalan.
Ada banyak buku yang menerangkan tentang bahayanya liberalisme, ini dikarenakan liberalisme bukanlah ihwal yang perlu dikompromi lagi. Andaikata liberalisme ini adalah sebuah bagian dari badan (anggota tubuh kita), maka liberalisme adalah sebuah hawa nafsu yang mesti kita buang jauh-jauh. Islam liberal sendiri sebenarnya adalah paham yang meliberalkan dirinya sendiri dan mengaku jati dirinya sebagai bagian dari islam yang kaffah, padahal islam tidak pernah menyandarkan pada asas-asas yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, seperti yang termaktub dalam paham ini. Jadi, tidak ada istilahnya islam menyandarkan diri pada paham yang jelas-jelas nyeleneh, ngarung ngidul, dan bahlul.
Dan ini yang paling penting, lain daripada yang lain. Karena ini menyangkut stabilitas keislaman kita, terutama kaum pemuda. Remaja kita seringkali terjebak dalam ilusi menggiurkan, yang hakikatnya dimensi kengerian, hingga membuat satu posisi dilematis yang membingungkan. Akhirnya dalam kebingungan itu, walaupun sebelumnya mereka (remaja) memiliki keinginan kuat untuk tidak terjerumus, memiliki keimanan cukup untuk selalu percaya dan yakin terhadap apa-apa yang harus diimani, tetap saja dapat terjerumus. Buktinya sudah banyak remaja yang dahulunya seorang aktivis keislaman, namun berubah secara mengejutkan seiring tertular paham yang menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah, termasuk salah satu dalamnya liberalisme, yang selain itu juga ada sekuralisme, kapitalisme dan lain sebagainya.

Selasa, 18 November 2014

0 Menanti Sosok Pemimpin Super Karismatik


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Menanti Sosok Pemimpin Super Karismatik


Memang sudah digariskan bahwa keduanya ini selalu disangkut-pautkan dengan kehidupan disekitarnya. Dalam sebuah pantauan yang mencakup kehidupan di desa-desa, tradisional sudah menjadi peralatan kehidupan, bahkan ibarat penyedap rumah yang tanpanya masakan tidak akan sedap untuk dinikmati. Seringkali kita lihat kehidupan di desa, masih ada saja kebiasaan memasak menggunakan kayu bakar, dengan peralatan dapur yang sederhana seperti penggorengan batu-bata, belum lagi dengan contoh lainnya. Berbeda dengan di kota, tradisi seperti ini sangat jarang kita temukan. Kalaupun ada, itu hanyalah sebuah inisiatif untuk menghemat penggunaan listrik, minyak, dan penggunaan bahan lain secara berlebihan. Karena kebutuhan di kota begitu mahal dan tidak banyak yang alamiah, maka ada juga dari masyarakat kota yang memakai peralatan tradisional.
Pada dasarnya keadaan seperti ini bisa kita tilik di banyak negara berkembang. Indonesia adalah negara yang masih memiliki kapabilitas menengah ke bawah. Pemerataan negeri ini masih belum seimbang, sehingga kebutuhan di desa tidak memadai dan seadanya tapi murah karena alamiah, sedang di kota keadaan begitu mendukung dan serba ada namun mempunyai kendala kemahalan. Jadi masih ada banyak kekurangan, walaupun mempunyai begitu banyak sumber daya alam yang melimpah. Negeri kita tidak mempunyai sumber daya manusia yang memadai secara spiritual. Sehingga mengolahnya pun negeri ini tidak mau capai-capai berkeringat dan menguras tenaga serta pikiran. Mereka pikir lebih baik serahkan saja kepada yang lebih berpengalaman tanpa mengambil ibroh dan ikut  serta dalamnya, atau mungkin ikut mempelajarinya, menilik siasat jitu untuk menangguli keterbatasan, atau sekedar mengontrol secara teliti kinerja yang dipercayakan kepada orang berpengalaman tersebut. Dalam hal ini, biasanya kita lebih memercayakannya kepada orang asing (luar negeri).
Ini sebenarnya indikasi dari ketidak-becusan kita mengurusi potensi alam yang melimpah ruah ini. bukan ketidak-becusan sih, hanya kita yang belum mau bertindak lebih jauh untuk mengungguli pihak asing. Kebanyakan dari kita (mohon maaf) yang bermalas-malasan, atau tidak punya rasa andil demi memajukan negeri ini. Oleh karenanya jarang sekali pemangku tampuk kepemimpinan kita yang diisi oleh seorang yang memang memikirkan keadaan negeri ini. Sejak saat itu juga kita tidak hanya tertinggal dari segi pengolahan sumber daya alam, tetapi juga tertinggal dari segi produksinya. Ini terjadi karena memang pihak asing membuat satu langkah serupa simbiosis mutualisme yang sama-sama menguntungkan, namun dengan takaran yang lebih menguntungkan pihak asing. Keuntungan kita hanya didapat di awal penanganan saja, selebihnya pihak asing yang lebih mengerti penanganan selanjutnya. Yang lebih mengerti inilah yang mendapat keuntungan lebih, bahkan melebihi si empunya alias negeri ini. Jadi, sudah menjadi maklum bersama kalau kita kalah saing. Kalah saing? Sudahlah terlanjur kita kalah, maka lebih baik perbaiki dulu kualitas SDM...

Sabtu, 02 Agustus 2014

0 Wajah “Kita Semua” dari Pra sampai Pasca Lebaran


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Wajah “Kita Semua” dari Pra sampai Pasca Lebaran

Banyak orang menyalah artikan lebaran yang biasa kita semua rayakan sekali setahun. Baik sebelum dan sesudah lebaran, selalu hal. Dan sekarang lebaran sudah terlewati waktunya, akan tetapi perkara hedonisme dan materialisme masih saja tertanam begitu kental di dalamnya, dan membekas seterusnya. Menjadi rayuan ampuh dan berpengaruh masa kini, sampai-sampai menjadi bumbu penyedap di dapur rumah tangga.
Pra lebaran, sebelum momentum lebaran atau yang dalam islam lebih dikenal dengan Idhul Fitri terjadi, memang membuat hiruk-piruk masyarakat Indonesia beramai-ramai menyambutnya dengan antusias dan menjadikan kepentingan tiap individunya. Semua tidak ingin melewatkan kesempatan setahun sekali ini tanpa mendapatkan apa-apa, semua ingin mendapatkan setidaknya keuntungan kecil dan sedikit. Segala macam usaha dikerahkan, sampai usaha kotor pun diusahakan.
Hampir setiap kali menjelang lebaran kasus-kasus kehilangan, pencurian, dan kriminalitas lain, terjadi begitu saja secara lumrah.Masyarakat yang sudah mempersiapkan keperluan-keperluannya untuk mempersiapkan lebaran, kebanyakankurang dan tidak berpikiran peka terhadap masyarakat di sekitarnya. Zakat paling-paling hanya dijadikan ritual pemberian seadanya, padahal ada begitu banyak yang masih bisa diberikan saat zakat tersebut.
Kasus-kasus seperti kehilangan, pencurian, dan kriminalitas lain, awalnya bukanlah suatu hal lumrah, tentu ada awal mula mengapa pra lebaran ini selalu dihiasi dengan kasus-kasus kriminalitas tersebut. Jika disangkut pautkan, kita akan mendapati titik temu, melihat bagaimana masyarakat kita saat mempersiapkan momentum lebaran. Seperti diungkapkan dalam paragraf sebelumnya, bahwa ada ketidak-pekaan diantara kita semua selaku Human Life Sosiality.

Selasa, 08 April 2014

0 Pemilu; Membuat Pilu, dari Dulu


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Pemilu; Membuat Pilu, dari Dulu

Bagi penulis, pemilu sebagai satu program negara dalam menentukan tampuk pemerintahan atau bisa disebut sebagai pesta politik Indonesia, yang seharusnya menampakkan keseriusan sejalan dengan keselarasan budaya, sosial, pendidikan, dan ekonomi, dimana kesemuanya adalah aspek-aspek menonjol dalam negeri, sebaliknya tidak menampakkan keselarasan terhadap aspek-aspek tersebut. Contohnya saja, banyak dari kalangan partai-partai politik sudah terlebih dahulu memunculkan isu, spekulasi, dan modus politik di dalam iklan-iklan televisi, media massa, dan jejaring sosial media yang belum saatnya pada waktu itu untuk digembor-gemborkan.
Padahal saat itu, adalah puncak dimana pemerintah berpapasan dengan tumpukan permasalahan negara yang masih banyak belum terselasaikan, seperti pengidentifikasian para koruptor yang masih menjadi PR pemerintah dalam menanggulanginya, walaupun secara langsung tugas ini diserahkan kepada KPK. Penstabilan perekonomian yang masih terkesan dini untuk dikatakan membaik, padahal itu hanyalah statement media dari pemerintah yang ingin menampakkan wajah dan citra baiknya di media massa.
Pendidikan di Indonesia pun masih berjalan di tempat, melihat dari penyelenggaraan pendidikan yang belum banyak menampakkan ke-efektif-an proses, penyelenggaraan terbaik dari tenaga pendidik dan kependidikan, serta kejelian dalam mengontrol peserta didik. Budaya yang dimiliki negeri ini, tidak lagi dibanggakan sebagaimana mestinya, justru lebih membanggakan budaya luar. Di akhir periode pemerintahan ini, seharusnya pemerintah sadar secepatnya untuk menyelesaikan setidaknya sebagian dari banyak problema yang menumpuk ini. Agar tidak menjadi kebiasaan pemerintah sebelumnya yang selalu meninggalkan masalah, mewariskan masalah, mengestafetkan masalah kepada pemerintah selanjutnya. Tentu saja, permasalahan akan terus menumpuk, dan tidak akan pernah selesai, jika terus-menerus kebiasaan tersebut dipertahankan.
Memang terdapat banyak upaya pemerintah menyelesaikan permasalahan tersebut. Sejak dari awal, kinerja pemerintah sekarang dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut memang tidak memuaskan banyak pihak, terutama golongan rendah yang dalam hal ini adalah masyarakat tingkat bawah. Pemerintah tidak membuat dobrakan-dobrakan efektif dalam satu hal, sehingga kesannya pemerintah tidak fokus, tidak tertuju pada satu titik terlebih dahulu, tidak konsisten berkinerja, tidak konstruktif (membangun) dalam menentukan kebijakan sampai imbasnya masalah demi masalah kian menumpuk, disebabkan tidak adanya kebijakan tepat dan sesuai dengan keinginan mayoritas masyarakat.

Jumat, 21 Maret 2014

0 Lebih Baik Mensejahterakan Daripada Menyengsarakan


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Lebih Baik Mensejahterakan Daripada Menyengsarakan

Jelang pasar bebas ASEAN, pemerintah kita justru semakin sporadis dalam melangkah. Bagaimana tidak, ambisi-ambisi bermunculan seiring dengan kepercayaan bahwa Indonesia mampu bersaing di pasar bebas ASEAN. Dikutip dari www.merdeka.com edisi kamis 13 Maret 2013 jam 14.09, bahwa Lembaga swadaya Indonesia for Global Justice (IGJ) menuding pemerintah tidak memiliki strategi dan rencana yang tepat untuk melindungi kepentingan petani, nelayan, buruh, dan pedagang tradisional, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai efektif 2015.
Tudingan dari IGJ ini, sebagai lembaga yang memang fokus menilik dan mengamati permasalahan seputar kesejahteraan dan keswadayaan masyarakat Indonesia, telah memperingatkan kinerja pemerintah yang menurut penulis sporadis, egoistis, dan ambisius dalam usahanya memperoleh keuntungan. Bahkan bisa dikatakan pemerintahan sudah melakukan secuil blunder  yang mungkin dapat membuat boa simalakama (senjata makan tuan). Ini adalah bumerang kecil yang dapat menjatuhkan kredebilitas perekonomian Indonesia di mata dunia. Karena inti dari perekonomian sebenarnya adalah menghasilkan kesejahteraan dan keswadayaan bersama, tidak hanya memperoleh keuntungan saja, lantas tanpa memikirkan kepentingan masyarakat, terutama kalangan bawah.
Namanya saja pasar bebas ASEAN, otomatis momok persainganlah yang muncul pertama kali di benak saat ini, dengan sistem konvensional sebagai lajur perekonomiannya. Maka pantaslah sebenarnya tudingan yang dilayangkan oleh IGJ, menilik dari apa yang menjadi langkah pemerintah dalam usahanya memajukan perekonomian negara, dengan jalan yang tidak tepat. Alasannya, sebagaimana yang dinyatakan Direktur Eksekutif IGJ Riza Damanik yang dilansir dalam www.merdeka.com di edisi yang sama, bahwa pemerintah tidak memiliki strategi dan rencana aksi yang melibatkan petani, buruh, nelayan, dan pedagang tradisional. "Seakan mereka dibiarkan sendirian menghadapi bahaya AEC," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (13/3).

Sabtu, 21 Desember 2013

0 Memelihara Sikap Muraqabah


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Memelihara Sikap Muraqabah



لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
                                                     (QS. Al-Baqarah: 284)

Secara mengecewakan, golongan pemuda kita begitu banyak yang berkecimpung dalam dunia yang tak ada gunanya sama sekali. Keberadaan mereka dikarenakan oleh banyak sebab yang berakibat dari lepasnya perilaku yang bebas. Perilaku yang bebas ini membuahkan paradigma kesenjangan, dimana tidak adanya moral yang berkecamuk dalamnya. Padahal moral atau asusila sangatlah dibutuhkan dalam menghadapi sikap tercela yang semakin membabi-buta saja. Sebelumnya saya akan bertanya terlebih dahulu kepada pembaca yang budiman, adakah anda mempunyai peliharaan semacam kucing, burung merpati, burung kakak tua atau lain sebagainya yang anda sayangi? Jika ada, apakah anda merasa mempunyai dan menyayangi peliharaan itu? Tentu anda menyayanginya dan akan  merawatnya segenap hati sebagaimana perilaku kita terhadap hewan, apalagi hewan itu adalah sebuah peliharaan.
Anda tidak akan menyayangi hewan peliharaan tersebut, seandainya anda tidak merasa mempunyainya atau anda tidak merasa harus andil dalam memelihara hewan itu, sehingga anda tidak menyayangi dan merawatnya sebagaimana mestinya. Pikirkan! Buat apa anda membeli hewan itu, kalau hanya untuk pajangan saja, tanpa disayangi dan dirawat dengan baik. Buat apa pula anda mempunyai hewan peliharaan tersebut sedang anda diamanahi menjadi seorang khalifah yang menyayangi semua makhluk ciptaan Allah SWT. Otomatis kita harus andil dalam memeliharanya. Kita juga harus andil dalam memenuhi haknya sebagai hewan peliharaan. Karena siapa lagi yang akan menyayangi selain kita.
Bicara masalah memiliki, tentu kita akan berbicara juga tentang kepribadian. Karena kepemilikan seseorang itu tergantung dari kepribadiannya, dan begitu pula sebaliknya. Bagaimana kita menggunakan apa-apa yang jadi kepemilikan kita dengan baik. Otak, mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, jari-jari, dan lain sebagainya yang kita miliki adalah satu dari banyak contoh bahwa kepemilikan itu tergantung pada pribadinya tersebut. Otak yang cerdas, itu berarti seorang yang memilikinya itu telah berbuat langkah mengasah yang benar terhadap otaknya. Mata yang jernih dan penglihatannya, itu berarti seorang yang memilikinya adalah orang yang selalu memakai matanya untuk kepentingan kebaikan semata tanpa melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat, seperti melihat sesuatu yang bukan haknya. Telinga dengan pendengaran baik dan jeli, seorang yang memilikinya adalah orang yang tidak pernah mendengarkan hal-hal buruk, seperti mendengarkan gosip dari orang. Mulut dengan alat perasa baik, cara bicara yang baik, dan segala sesuatu yang dikeluarkannya baik, seorang yang memilikinya adalah orang yang tidak pernah sedikitpun berkata, berbicara, memakan, mengeluarkan sesuatu yang tidak pantas seperti meludah sembarangan, berbicara tentang gosip, dan berkata yang jorok.

Senin, 02 Desember 2013

0 Motivasi Menulis; Mengawali Dengan Biasa Dan Senang


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Motivasi Menulis; Mengawali Dengan Biasa Dan Senang


Tulisan, penulis dan menulis! mereka adalah satu hal yang membuat saya senang. Mereka mengagumkan bukan? Mereka dapat memengaruhi orang saat dibaca (baik tulisannya, penulisnya, dan cara menulisnya). Banyak orang yang senang pada mereka, karena kontribusi mereka. Sebuah tulisan dapat mempengaruhi banyak orang dengan gaya bahasanya, sihir katanya, dan banyak lagi, itu berkat jasa sang penulis yang memulai untuk menulis. Jadi, kata kunci kita kali ini adalah senang. Kesenangan, menyenangkan, dan lain sebagainya. Ketika kita tengah mengalami kesenangan, rasanya seperti hal tersebut menjadi satu hal yang tidak ingin ditinggalkan. Saat senang kita tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya, mana ada orang yang senang berpikir dua kali untuk melakukan hal yang disenanginya itu, kecuali ada dua kesenangan atau lebih yang mesti dipilih salah satunya, hal itu otomatis harus ditentukan salah satunya, sehingga melewatkan kesenangan yang lainnya. Senang adalah satu kata ampuh dalam mengerjakan suatu hal. Dia dapat menjalar masuk menggerakkan panca indera dan hampir seluruh organ tubuh.
Darimana datangnya senang? Senang muncul saat kita mulai terbiasa melakukan hal yang dianggap memiliki daya tarik tersendiri kebanding hal lain di kemudian hari. Senang juga dapat muncul secara langsung, karenanya dia dapat datang begitu saja, jika daya tarik objek (hal) yang dilihat dirasa memiliki nilai yang sangat, luar biasa, dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Saya berikan contoh kecil tentang senang yang datang karena keterbiasaan, yaitu ketika orang mulai senang membaca. Orang yang senang membaca, awalnya mungkin tidak langsung senang membaca begitu saja. Mereka mengawali bacaannya dari sebuah catatan-catatan kecil seperti di catatan harian di facebook, di blog, di website, dan lain sebagainya. Pada saat terbiasa membaca catatan-catatan itulah, orang memulai kesenangannya terus-menerus, bahkan sampai tak puas jika hanya membaca berupa catatan-catatan saja, melainkan bentuk lainnya seperti artikel, essay, cerpen, puisi yang hanya beberapa lembar, serta berbentuk buku tebal dengan beratus sampai beribu halaman sekalipun.

Rabu, 16 Oktober 2013

0 Siapa Teroris Sebenarnya?


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Siapa Teroris Sebenarnya?
(Mengingat Kembali)

Terorisme... kata yang menjadi tanda tanya. Mengapa harus islam? Dikaitkan dengan hal berbau terorisme. Peristiwa pembombardiran dua gedung kembar tertinggi di dunia milik As kala itu, yakni gedung Pentagon dan WTC, menjadi perhatian dunia. Islam dijelek-jelekan lewat banyak media, terkait tentang peristiwa tersebut. Banyak media di AS mengklaim bahwa islam adalah dalang dibalik peristiwa berdarah tersebut. Al-Qaeda yang merupakan gerakan mujahidin berbasis islam, diduga kuat telah melakukan pembombardiran. Siapa yang harus disalahkan? Dengan adanya peristiwa berdarah tersebut. AS dan sekutu telah banyak mengorbankan orang-orang yang tak bersalah. Mereka yang tak pantas untuk menderita, pada akhirnya menderita oleh sebab keegoisan AS dan sekutu. Kepentingan mereka untuk meluluh-lantakkan negeri timur tengah, yang merupakan basis perkumpulan kekuatan islam, tidak akan ada habisnya. Sampai islam bertekuk-lutut kepada mereka (AS), sampai islam mengakui bahwa agama, ajaran, paham mereka benar, mereka tetap tidak akan menghentikan kepentingan mereka. Ini mungkin bukti konkret bahwa apa yang dijelaskan oleh Al-Quran adalah fakta kebenaran tak terbantahkan.

0 Identik Terorisme; Pesantren?


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Identik  Terorisme; Pesantren?
(Mengingat Kembali)


Sengaja para anti-islam menamakannya demikian. Agar islam senantiasa diluputi rasa gusar dan ketakutan. Islam dinilai bertolak-belakang dari pelbagai aspek yang mendukung zaman modern ini. Terorisme! Siapa yang salah sebenarnya dibalik ini semua? Jawabannya sangat jelas, anda bisa menebaknya bukan. Karena identik barat mulai menggerogoti segala aspek yang berkaitan dengan sektor pembangunan kembali dunia islam, khususnya di sektor sosial-politik. Maka secara perlahan kemajuan dunia islam terhambat pasca kemunduran sampai kehancuran khilafah islamiyah. Namun demikian pesantrenisasi besar-besaran yang diprakarsai oleh para alumni timur tengah (orang Indonesia yang belajar di timur tengah) berwarga-negara asli Indonesia, telah menjawab esensi pola kehidupan umat islam sebagai titik kemajuan kembali. Serta menjabarkan lebih akurat terkait dekonstruksi khilafah islamiyah.
Pondok Modern Gontor, PP. Al-Amien Prenduan, PP. Darunnajah, PP. Tebuireng, PP. Nurul Jadid, PP. Sidogiri dan sebagainya, adalah usaha, kerja keras, dan hasil putra nusantara, bergelut dalam islamisasi yang saat itu terancam oleh adanya penjajahan. Kristenisasi kolonial Belanda dan ajaran-ajaran pendewaan matahari (hinomaru) oleh Jepang, menjangkit ke seluruh pelosok nusantara, kala itu. Kita mulai dari kolonialisme. Perjuangan rakyat berkobar dimana-mana, tanpa pandang senjata, tanpa pandang status. Dengan peralatan seadanya, rakyat terus maju menentang kolonialisme, walau harus mati sekalipun. Ada gerakan petani, bangsawan, buruh, raja-raja kecil, pangeran-pangeran, adipati-adipati, anggota militer bangsa, bahkan para santri yang masih belia baik dalam pengalaman bertempur maupun tinjauan umur, semua membabi-buta berjuang melawan kolonialisme.
Gerakan-gerakan menentang penjajahan ini terus berlanjut, termasuk para santri belia itu. Mereka terus berusaha melajurkan negeri ini pada rute dan arah yang aman. Sehingga tidak sedikit dari kalangan santri yang syahid (gugur) dalam medan pertempuran. Mereka rela mengorbankan waktu, materi, tenaganya demi negeri yang kacau oleh kemelut penjajahan. Kolonialisme saat itu sedang merajai dunia. Pengaruh terbesar dan tersebar dengan berbagai macam tindak-tanduk, menghalalkan segala cara. Tekanan kolonialisme ini, serentak menyandarkan nusantara sebagai penghasil sumber daya alam paling kaya, yang harus kehilangan kenyataan manis. Sampai kemudian kolonialisme berakhir, setelah 350 tahun.
Setelah berakhirnya kolonialisme, negeri bukan malah membaik. Kolonialisme berganti kepada masa-masa lebih genting. Jepang dengan ajaran Shinto, pendewaan terhadap matahari (hinomaru) menambah penderitaan bangsa ini selama 3,5 tahun. Inlander (sapaan orang Belanda kepada kita) berganti dengan romusha. Bangsa ini dibilang bangsa pekerja, bangsa yang sia-sia hidup. Sehingga sempurna-lah penderitaan bangsa ini. Diperparah oleh pergulatan politik barat yang menghancurkan, yang tiada habisnya. Tepatnya dari mulai Perang Dunia I sampai II. Semua seakan menindak lanjuti keterpurukan negeri ini, walaupun melihat banyak potensi dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh negeri lain.
Penjajahan terdahulu untungnya masih menyisakan suasana terbaik, dimana negeri mendapatkan haknya, freedom of country! Indonesia dapat merdeka setelah sekian lama mengalami polemik internal dan eksternal. Tahun 1945 dimana Indonesia mengakhiri krisis penjajahan berkepanjangan. Indonesia memulai hidup baru tanpa kolonialisme dan pengaruh shinto (ajaran-ajaran pendewaan matahari). Namun nyatanya ini masih belum cukup mengantarkan negeri ini pada kemakmuran hidup yang diimpikan. Kemerdekaan yang didapat negeri ini hanya sebatas merdeka lewat pernyataan resmi, merdeka yang hanya lepas dari penjajahan tanpa kemakmuran dan kesejahteraan.
Oleh karenanya muncul-lah gerakan saparatis anti-pemerintahan, seperti pasukan Darul Islam, pemberontakan Ibnu Hajar, pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), AMI (Anggota Muda Islam) dan lain sebagainya. Pemberontakan-pemberontakan ini hadir karena didasari oleh rasa ketidak puasan terhadap pemerintah. Golongan-golongan ini adalah golongan yang mengatas-namakan islam. Dan kita tidak mengetahui secara pasti apakah mereka benar-benar memberontak dengan tujuan ingin membuat kerusakan pada negeri ini, atau mungkin mereka hanya mengatas-namakan islam sehingga mereka dapat mencoreng muka islam dengan berbagai macam pemberontakannya, atau mungkin saja sebenarnya mereka tak ada niat untuk memberontak. Mereka hanya dituduh sebagai kelompok saparatis yang kemudian membuat mereka tak menerima pernyataan tersebut sampai akhirnya melawan. Bisa saja bukan, sejarah bisa saja dipalsukan. Sehingga sejarah memuat pernyataan yang salah dan fatal.
Pengkajian secara ilmiah harus dibuktikan. Mengingat dampak yang begitu besar akan terjadi seiring waktu berjalan. Saya begitu tahu bagaimana pejuang-pejuang dengan begitu susah payah mempertahankan kemerdekaan ini pasca Proklamasi. Dari kembalinya Belanda dan sekutu ke Indonesia dalam bentuk NICA, kemudian datangnya PKI (Partai Komunis Indonesia), APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), RMS (Republik Maluku Selatan), Batalyon, MMC (Merapi Merbabu Komplek), PRRI (Perjuangan Revolusioner Republik Indonesia), Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) ke Indonesia bersamaan pemberontakan-pemberontakan kelompok islam yang telah disebutkan tadi. Sejarah jangan sampai menjadi racun yang memunafikkan kita semua. Sejarah Indonesia terbilang masih tabu, hitam-putih dan kandungan kontroversial, menjadi satu dalamnya. Bagaimana tidak memungkinkan terjadinya pengaturan sejarah palsu. Bisa saja ini sejarah palsu.
Mohon maaf... ini bukan masalah kepercayaan dan ketidak-percayaan, ini masalah benar atau salah. Kalau toh sejarah ini benar, mengapa tidak! Kita pasti percaya sepenuhnya. Dan kalau toh sejarah ini salah mengapa tidak kita perbaiki bersama-sama. Demi anak-cucu kita kelak yang mempelajari sejarah kebudayaan ini. Saya tidak-lah memvonis sejarah tidak benar (salah). Saya juga tidak mengklaim sejarah ini sebuah kemunafikkan. Saya hanya khawatir, seandainya sejarah ini benar-benar jauh dari nilai kebenaran, lantas siapa mau tanggung jawab? Anak-cucu kita sudah terlanjur dicekoki sejarah yang salah, misalnya. Kita perlu memikirkan jalan keluarnya.
Dalam sejarah sepertinya islam dicoreng-moreng dengan pelbagai tindak negatifnya. Bahkan sampai sekarangpun, islam terus dihujat dengan bermacam kedigdayaan doktrin gagal (paham gagal). JIL, Jama’ah Ahmadiyah, gerakan islam sekuler dan lain sebagainya, semuanya adalah paham gagal, dimana kebebasan berpikir kini disalah-gunakan, tidak sesuai dengan pengamalan syariat islam. Sekarang tiada lagi kebebasan berpikir, yang ada hanya kebebasan bertindak. Main hakim sendiri, main vonis sana-sini, membuat doktrin asal menarik, asal canggih, dan asal dapat keuntungan duniawi. Bukan main edan pemikiran ini. Sampai-sampai terkikis aqidah dan itikad seorang muslim.

Senin, 30 September 2013

0 Pesan Pemuda Bangsa, Demi Negerinya


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Pesan Pemuda Bangsa, Demi Negerinya


Pernahkah anda mengalami permasalahan rumit, seakan tak bisa terselesaikan? Jawabanya pasti seringkali. Pertanyaan ini amat pantas untuk penghuni negeri rumit ini, Indonesia. Saya selalu rumit jika membicarakan negeri ini terutama membicarakan masalah negeri ini, bahkan sebelum membicarakan permasalahan negeri ini. Tentu karena saya merasa negeri ini terlalu parah untuk menjadi sebuah negeri. Lebih baik negeri ini tak menjadi negeri sekalian, jika banyak dari kaum pribuminya yang terlantarkan. Lebih baik negeri ini dijajah kembali oleh kolonialis, daripada harus terjajah globalis mengerikan. Di masa penjajahan, negeri ini memang menderita parah, tapi lebih parah lagi jika negeri ini terjajah hedonisme, liberalisme, sekulerisme, intinya terhadap akhiran -isme yang membahayakan itu.
Ya, sebenarnya ini hanya sebuah umpamaan saja, perbandingan antara hal yang terburuk terhadap hal yang sangat buruk. Membayangkannya saja, sudah se-rumit mengukir di atas air, dan mencoba untuk menyelesaikan persoalannya serupa mengukir di atas batu. Bayangkan keduanya, mengukir di atas dua hal yang sama-sama menyulitkan. Mengukir di atas air itu sudah barang tentu, tidak akan ada orang yang bisa mengukirnya (kecuali jika air itu dibekukan), jadi membayangkan permasalahan negeri itu sama saja mengukir sesuatu yang tidak mungkin dapat diukir. Dan mencoba untuk menyelesaikan permasalahan negeri ini, sama dengan mengukir sebongkah batu yang hanya harus membutuhkan ketelatenan, keyakinan, kerja keras dan kepercayaan akan terselesaikan. Maka, demikian penulis menggambarkannya sebagai suatu pengantaraan. Pertanyaannya, adakah diantara kita yang berusaha untuk menyelesaikan permasalahan di negeri ini?.

Jumat, 13 September 2013

0 Menjadi Pribadi yang Luar Biasa


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Menjadi Pribadi yang Luar Biasa


Dalam berkarya itu perlu ada konsistensi. Kalaupun semangat sudah mulai redup, mesti ada tonggak penyangga untuk mempertahankannya. Jangan sampai ada  penghalang apapun yang sedikit saja membuat semangat kita menurun drastis. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan masing-masing. Jadi, gunakan kelebihan kita untuk menutupi kekurangan yang ada, juga untuk memotivasi kekurangan kita agar menjadi kelebihan yang tak terduga, menjadi  senjata ampuh untuk melawan segala hal berbau ejekan. Gunakan pula kelebihan kita untuk menjadi jejak konsisten, membuat api semangat, dan memberi lentera kepada yang lain agar terang.
Berkarya itu biasa, menjadi seorang karyawan itu juga biasa. Bagaimanakah menjadi luar biasa? kita harus melakukan sesuatu lebih awal dan lebih keras dari biasanya, itulah modalnya. Ketika mata kita melihat begitu jelas dari biasanya, ketika mulut kita terbusa begitu banyak dari biasanya, ketika hidung bernafas berkali-kali lipat dari biasanya, ketika telinga kita mendengar lebih seksama dari biasanya, ketika otak kita digunakan berpikir ekstra sepanjang siang-malam, ketika badan seakan tak pernah minta untuk diisi, ketika tangan diperlakukan seperti pedang yang menebas musuh dalam suasana peperangan antara hidup dan mati, ketika kaki dipergunakan seperti larinya kuda tercepat di dunia.
Mungkin semua kerja anggota tubuh itu bisa dikatakan mustahil bagi kita, orang yang suka bermalas-malasan. Karena saat kita membaca bersama paragraf kedua dari artikel ini, responnya adalah sebuah pernyataan kalau penulisnya ini mengada-ngada, penulisnya ini terlalu banyak berimajinasi, atau penulisnya ini hanya seenaknya ngomong saja. Semua itu boleh saja muncul di pikiran pembaca sekalian, karena itu adalah hak berpikir masing-masing. Tetapi disini saya tidak ingin membicarakan kepercayaan dan keyakinan kita. Saya hanya ingin menyampaikan kalau kita mau mencoba untuk berubah, pasti kita akan tahu. Kalau kita mau berusaha keras, pasti akan terlihat hasilnya. Kalau kita mau bersungguh-sungguh dengan baik, pasti kita akan mendapatkan hasil yang sungguh-sungguh dengan baik juga. Segala sesuatu yang diawali dengan baik, dan diiringi sinergi konsistensi yang baik, bisa dipastikan hasilnya pasti akan sebaiknya kinerjanya. Dedikasi terbaik akan terlihat lebih terang daripada dedikasi yang biasa-biasa saja seperti lampu neon.
Saya beritahukan sekali lagi, kalau konsistensi itu paling idealnya kinerja. Karena kesungguhan itu dapat terbuktikan ampuhnya dengan konsisten. Halnya juga dengan penilaian baik, sangat baik dan terbaik, semua itu penentuannya adalah sinergi konsistensi. Kalau saja orang benar-benar tahu ini, dan sadar, bisa dikatakan tidak ada yang namanya keraguan, apalagi malas sedikitpun. Orang yang malas itu diawali oleh keraguan. kita tidak menahu tentang keraguan yang selama ini menggelayuti begitu saja dalam diri. Padahal suatu keraguan itu sangatlah mengganggu intuisi kita, mental kita, dan pengaruh ketajaman pola pikir kita. Sehingga yang tadinya punya prakiraan optimistis menjadi pesimistis, yang tadinya mental pantang menyerah menjadi mudah menyerah, dan yang tadinya punya pola pikir tajam justru menjadi tumpul seiring pengaruh keraguan.