Tampilkan postingan dengan label Dari Pemuda ke Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Pemuda ke Internet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2020

0 Manusia Milenial Berakhlaq Rasulullah SAW


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Manusia Milenial Berakhlaq Rasulullah SAW

Di zaman serba canggih ini, kita akan mendapatkan banyak hal yang kita inginkan hanya dengan sekali klik. Lapar di malam hari ini, bisa terobati, dengan hanya satu klik tombol pesan online, setelah itu datang pizza, fried chicken, martabak, terang bulan, dan makanan apa saja yang diinginkan sesuai pesanan. Ingin belanja tapi malas berpergian, tidak perlu khawatir, bisa klik tombol pesan online, dan semua barang sudah tersedia lengkap di toko online. Pikirkanlah baik-baik! Sekarang zaman dengan teknologi dan informasi serba cepat dan sangat bermanfaat, sangat disayangkan bila hanya dilewatkan begitu saja untuk hal-hal yang sifatnya hiburan semata, amat disayangkan bila hanya digunakan sebagai pemuas nafsu, memandang yang tidak seharusnya dipandang, menonton yang tidak selayaknya dipertontonkan, dipakai untuk hal-hal negatif mengarah pada mudharat dan kemaksiatan, apalagi bila sampai melakukan perbuatan dosa besar. Naudzubilllahi min dzalik…

Selasa, 18 November 2014

0 Menanti Sosok Pemimpin Super Karismatik


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Menanti Sosok Pemimpin Super Karismatik


Memang sudah digariskan bahwa keduanya ini selalu disangkut-pautkan dengan kehidupan disekitarnya. Dalam sebuah pantauan yang mencakup kehidupan di desa-desa, tradisional sudah menjadi peralatan kehidupan, bahkan ibarat penyedap rumah yang tanpanya masakan tidak akan sedap untuk dinikmati. Seringkali kita lihat kehidupan di desa, masih ada saja kebiasaan memasak menggunakan kayu bakar, dengan peralatan dapur yang sederhana seperti penggorengan batu-bata, belum lagi dengan contoh lainnya. Berbeda dengan di kota, tradisi seperti ini sangat jarang kita temukan. Kalaupun ada, itu hanyalah sebuah inisiatif untuk menghemat penggunaan listrik, minyak, dan penggunaan bahan lain secara berlebihan. Karena kebutuhan di kota begitu mahal dan tidak banyak yang alamiah, maka ada juga dari masyarakat kota yang memakai peralatan tradisional.
Pada dasarnya keadaan seperti ini bisa kita tilik di banyak negara berkembang. Indonesia adalah negara yang masih memiliki kapabilitas menengah ke bawah. Pemerataan negeri ini masih belum seimbang, sehingga kebutuhan di desa tidak memadai dan seadanya tapi murah karena alamiah, sedang di kota keadaan begitu mendukung dan serba ada namun mempunyai kendala kemahalan. Jadi masih ada banyak kekurangan, walaupun mempunyai begitu banyak sumber daya alam yang melimpah. Negeri kita tidak mempunyai sumber daya manusia yang memadai secara spiritual. Sehingga mengolahnya pun negeri ini tidak mau capai-capai berkeringat dan menguras tenaga serta pikiran. Mereka pikir lebih baik serahkan saja kepada yang lebih berpengalaman tanpa mengambil ibroh dan ikut  serta dalamnya, atau mungkin ikut mempelajarinya, menilik siasat jitu untuk menangguli keterbatasan, atau sekedar mengontrol secara teliti kinerja yang dipercayakan kepada orang berpengalaman tersebut. Dalam hal ini, biasanya kita lebih memercayakannya kepada orang asing (luar negeri).
Ini sebenarnya indikasi dari ketidak-becusan kita mengurusi potensi alam yang melimpah ruah ini. bukan ketidak-becusan sih, hanya kita yang belum mau bertindak lebih jauh untuk mengungguli pihak asing. Kebanyakan dari kita (mohon maaf) yang bermalas-malasan, atau tidak punya rasa andil demi memajukan negeri ini. Oleh karenanya jarang sekali pemangku tampuk kepemimpinan kita yang diisi oleh seorang yang memang memikirkan keadaan negeri ini. Sejak saat itu juga kita tidak hanya tertinggal dari segi pengolahan sumber daya alam, tetapi juga tertinggal dari segi produksinya. Ini terjadi karena memang pihak asing membuat satu langkah serupa simbiosis mutualisme yang sama-sama menguntungkan, namun dengan takaran yang lebih menguntungkan pihak asing. Keuntungan kita hanya didapat di awal penanganan saja, selebihnya pihak asing yang lebih mengerti penanganan selanjutnya. Yang lebih mengerti inilah yang mendapat keuntungan lebih, bahkan melebihi si empunya alias negeri ini. Jadi, sudah menjadi maklum bersama kalau kita kalah saing. Kalah saing? Sudahlah terlanjur kita kalah, maka lebih baik perbaiki dulu kualitas SDM...

Selasa, 08 April 2014

0 Pemilu; Membuat Pilu, dari Dulu


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Pemilu; Membuat Pilu, dari Dulu

Bagi penulis, pemilu sebagai satu program negara dalam menentukan tampuk pemerintahan atau bisa disebut sebagai pesta politik Indonesia, yang seharusnya menampakkan keseriusan sejalan dengan keselarasan budaya, sosial, pendidikan, dan ekonomi, dimana kesemuanya adalah aspek-aspek menonjol dalam negeri, sebaliknya tidak menampakkan keselarasan terhadap aspek-aspek tersebut. Contohnya saja, banyak dari kalangan partai-partai politik sudah terlebih dahulu memunculkan isu, spekulasi, dan modus politik di dalam iklan-iklan televisi, media massa, dan jejaring sosial media yang belum saatnya pada waktu itu untuk digembor-gemborkan.
Padahal saat itu, adalah puncak dimana pemerintah berpapasan dengan tumpukan permasalahan negara yang masih banyak belum terselasaikan, seperti pengidentifikasian para koruptor yang masih menjadi PR pemerintah dalam menanggulanginya, walaupun secara langsung tugas ini diserahkan kepada KPK. Penstabilan perekonomian yang masih terkesan dini untuk dikatakan membaik, padahal itu hanyalah statement media dari pemerintah yang ingin menampakkan wajah dan citra baiknya di media massa.
Pendidikan di Indonesia pun masih berjalan di tempat, melihat dari penyelenggaraan pendidikan yang belum banyak menampakkan ke-efektif-an proses, penyelenggaraan terbaik dari tenaga pendidik dan kependidikan, serta kejelian dalam mengontrol peserta didik. Budaya yang dimiliki negeri ini, tidak lagi dibanggakan sebagaimana mestinya, justru lebih membanggakan budaya luar. Di akhir periode pemerintahan ini, seharusnya pemerintah sadar secepatnya untuk menyelesaikan setidaknya sebagian dari banyak problema yang menumpuk ini. Agar tidak menjadi kebiasaan pemerintah sebelumnya yang selalu meninggalkan masalah, mewariskan masalah, mengestafetkan masalah kepada pemerintah selanjutnya. Tentu saja, permasalahan akan terus menumpuk, dan tidak akan pernah selesai, jika terus-menerus kebiasaan tersebut dipertahankan.
Memang terdapat banyak upaya pemerintah menyelesaikan permasalahan tersebut. Sejak dari awal, kinerja pemerintah sekarang dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut memang tidak memuaskan banyak pihak, terutama golongan rendah yang dalam hal ini adalah masyarakat tingkat bawah. Pemerintah tidak membuat dobrakan-dobrakan efektif dalam satu hal, sehingga kesannya pemerintah tidak fokus, tidak tertuju pada satu titik terlebih dahulu, tidak konsisten berkinerja, tidak konstruktif (membangun) dalam menentukan kebijakan sampai imbasnya masalah demi masalah kian menumpuk, disebabkan tidak adanya kebijakan tepat dan sesuai dengan keinginan mayoritas masyarakat.

Jumat, 21 Maret 2014

0 Lebih Baik Mensejahterakan Daripada Menyengsarakan


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Lebih Baik Mensejahterakan Daripada Menyengsarakan

Jelang pasar bebas ASEAN, pemerintah kita justru semakin sporadis dalam melangkah. Bagaimana tidak, ambisi-ambisi bermunculan seiring dengan kepercayaan bahwa Indonesia mampu bersaing di pasar bebas ASEAN. Dikutip dari www.merdeka.com edisi kamis 13 Maret 2013 jam 14.09, bahwa Lembaga swadaya Indonesia for Global Justice (IGJ) menuding pemerintah tidak memiliki strategi dan rencana yang tepat untuk melindungi kepentingan petani, nelayan, buruh, dan pedagang tradisional, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai efektif 2015.
Tudingan dari IGJ ini, sebagai lembaga yang memang fokus menilik dan mengamati permasalahan seputar kesejahteraan dan keswadayaan masyarakat Indonesia, telah memperingatkan kinerja pemerintah yang menurut penulis sporadis, egoistis, dan ambisius dalam usahanya memperoleh keuntungan. Bahkan bisa dikatakan pemerintahan sudah melakukan secuil blunder  yang mungkin dapat membuat boa simalakama (senjata makan tuan). Ini adalah bumerang kecil yang dapat menjatuhkan kredebilitas perekonomian Indonesia di mata dunia. Karena inti dari perekonomian sebenarnya adalah menghasilkan kesejahteraan dan keswadayaan bersama, tidak hanya memperoleh keuntungan saja, lantas tanpa memikirkan kepentingan masyarakat, terutama kalangan bawah.
Namanya saja pasar bebas ASEAN, otomatis momok persainganlah yang muncul pertama kali di benak saat ini, dengan sistem konvensional sebagai lajur perekonomiannya. Maka pantaslah sebenarnya tudingan yang dilayangkan oleh IGJ, menilik dari apa yang menjadi langkah pemerintah dalam usahanya memajukan perekonomian negara, dengan jalan yang tidak tepat. Alasannya, sebagaimana yang dinyatakan Direktur Eksekutif IGJ Riza Damanik yang dilansir dalam www.merdeka.com di edisi yang sama, bahwa pemerintah tidak memiliki strategi dan rencana aksi yang melibatkan petani, buruh, nelayan, dan pedagang tradisional. "Seakan mereka dibiarkan sendirian menghadapi bahaya AEC," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (13/3).

Rabu, 03 April 2013

0 Internet; Simbol Revolusioner Pengetahuan


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Internet Simbol Revolusioner Pengetahuan


Internet merupakan salah satu simbol revolusioner pengetahuan era masa kini, masa dunia ke-tiga. Keterangan ini bisa kita dapati di tiap jajaran masyarakat. Buktinya, baik dari anak usia dini sampai usia produktif, selalu menggunakannya untuk memecahkan masalah. Internet ibaratkan raja tiada tandingan, kalau soal pengetahuan. Bahkan penulis menobatkannya sebagai benteng terakhir ilmu pengetahuan. Ada-ada saja. Ketangguhan, kejelian, dan ketelatenannya pun tak bisa kita bayangkan, hanya kata luar biasa yang dapat penulis ucapkan. Bukan luar biasa dalam akronim SLB (Sekolah Luar Biasa) itu.
Ini memang jelas luar dari biasa, beda dari biasa. Google ialah mesin pencari paling jitu dalam internet. Selain paling jitu, Google juga mesin pencari paling disegani oleh khalayak, kebanding mesin pencari lainnya. Google juga mempermudah akses jadi lebih ringan. Perpustakaan Digital atau Maktabah Samilah yang biasa kita dengar di pondok pesantren, juga mengambil data dari internet. Entahlah siapa yang pertama kali mencetuskan Maktabah Samilah, yang jelas ia telah menyumbangkan nilai berharga bagi umat manusia, karena peluang untuk menyelesaikan masalah jadi lebih mudah. Perpustakaan Digital membuat orang lebih cepat menikmati bacaannya tanpa harus mencari terlebih dahulu kesana-kemari. Apalagi jika Perpustakaannya sebesar Perpustakaan di Harvard University.
Internet tak bisa dilepaskan dari hal-hal yang baru, walaupun se-detik pun. Coba anda ketik detik.com, pasti akan banyak bermunculan kabar informasi terbaru seputar apapun. Alhamdulillah… tuhan telah menciptakannya di era mutakhir ini, lewat perantara orang-orang jenius masa kini. Sehingga kita dapat menikmatinya sesuai keinginan. Tapi ada saja pekerjaan jahil, toh zaman sekarang bukan lagi jahiliyah seperti dulu.
Inilah yang disayangkan. Situs-situs porno seringkali diakses dalam internet. Penelitian terkait masalah ini, mengungkapkan bahwa tingkat pergaulan remaja yang bebas saat ini, salah satu penyebabnya adalah situs porno dalam internet. Angka kriteria hamil di luar nikah juga begitu. Penyebab utamanya adalah akses situs porno, ditambah lagi media Facebook yang biasa kita akses saat online. Banyak pertemuan remaja tak wajar, berawal perkenalan sesama teman online. Kemudian membuat ketertarikan satu sama lain, dan keduanya mengadakan janji pertemuan, selang kemudian terjadilah peristiwa tak senonoh yang dilakukan keduanya. Amat cepat sekali, amat mudah sekali. Anda tahu bukan peristiwa ini! Naudzubillahi min dzalik. Bukankah ini ketidak wajaran, yang mesti kita hilangkan.
Internet memang harus kita manfaatkan dengan sewajarnya. Pengetahuan harus kita butuhkan. Banyak remaja sekarang lebih memilih Facebook-an kebanding menambah pengetahuannya dalam dunia maya. Saya punya pertanyaan dan jawaban konyol tentang remaja sekarang, lebih baik mana memandangi layar Facebook atau mencari berita, informasi yang banyak tersebar di dalamnya? Remaja akan menjawab, pasti lebih baik memandangi layar Facebook ketimbang layar monitor yang berisikan informasi-informasi yang menarik. Sesungguhnya, seperti ilmu pengetahuan misalnya, para remaja justru tidak memperluas pengetahuannya dengan memperbanyak informasi tersebut, bahkan lebih memilih Facebook-an saat usai sekolah, saat bersantai, saat berdiam diri. Mereka menggunakan modem, wifi dan Hp-nya untuk Facebook-an, bercengkrama dengan teman di dunia maya alias ngobrol bertemakan ngarung ngidul entah kemana. Padahal guru-guru menganjurkan untuk mengerjakan PR sebagai tugas rumah. Mereka kemudian banyak menyalah-gunakan waktu dengan seenaknya, sampai melupakan pekerjaan rumah yang ditugaskan dari sekolah.
Penulis ingin menyarankan, Boleh saja Fb-an, main game online! tetapi jangan sampai waktu kita terforsir, sehingga melupakan kewajiban kita, melupakan pekerjaan kita sebagai seorang pelajar, yaitu belajar. Ingat! Kita dididik oleh orangtua, guru dan pendidik lainnya, tidak hanya sebatas teori, tetapi juga aplikasi (praktik). Dari mulai orangtua, guru, dan lainnya, mengajarkan kita untuk selalu menghargai tugasnya. Tugas kita sekarang adalah seorang pelajar, maka kita harus belajar, memperluas ilmu pengetahuan, mencari wawasan, trobosan, dan kegiatan baru. Itu baru seorang pelajar berdedikasi. Tetapi apa kenyataannya? Banyak remaja sekarang tidak menyadarinya. Tidak ada rasa kasihan kepada diri sendiri. Sehingga pandangannya jadi buram, tak terarah. Remaja sekarang, hanya sedikit yang sadar. Dan malah berbuat hal negatif. Terkhusus pada pemakaian internet sebagai simbol revolusioner pengetahuan.

Rabu, 20 Februari 2013

0 Internet Merupakan Salah Satu Sinyal Mudharat


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Internet Merupakan Salah Satu Sinyal Mudharat

   Di era globalisasi ini, internet sudah menjadikan dunia diraja lelai digitalisme. Facebook, google, blogger, merupakan istilah-istilah yang sering kita jumpai dalam internet. Perpustakaan dahulunya banyak difasilitasi oleh ragam buku dan merupakan jalan terakhir untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, kini tak perlu lagi. Hanya tinggal berhubungan dengan situs internet, sudah terjalin banyak situs-situs digital mengenai ebook-ebook ilmu filsafat, ilmu social, ilmu budaya, dan lain sebagainya, yang berhubungan dengan banyak ilmu pengetahuan.
   Ini patut kita syukuri. Karena biar bagaimana pun, internet adalah satu kebutuhan manusia yang tak bisa dilepaskan untuk saat ini. Seseorang akan dibilang jadul (zaman dahulu), jika sampai detik ini tidak mengetahui seluk-beluk dari  internet, sedikitpun. Internet di era globalisasi, telah mengumpamakannya sebagai tuhan pengetahuan (sumber pengetahuan). Pernyataan ini memang sesuai kenyataan, dan fakta membuktikannya. Namun apakah berarti internet adalah segalanya di muka bumi ini? Tidak karena internet juga punya sisi negatif yang dapat menjerumuskan manusia. Ilmu pengetahuan yang diakses di internet, tidak seimbang dengan situs porno, video porno dan situs-video maksiat lainnya. Dengan artian, banyaknya akses situs ilmu pengetahuan berupa pendidikan, bahasa, keilmuan, tidak sebanyak akses situs maksiat. Jadi internet sekarang, identik dengan kategori maksiat. Inilah mengapa, internet disebut-sebut sebagai salah satu sinyal mudharat.
    Internet seakan-akan mempunyai sindrum yang membuat orang betah berlama-lama di depannya. Sebut saja, facebook. Facebook ialah jejaring internet untuk dapat berhubungan dengan satu sama lainnya. Dengan facebook, kita dapat bertukar informasi, berkomunikasi jarak jauh, dan terutama mencari teman baru. Bertukar informasi tentunya hal yang menambah wawasan kita. Berkomunikasi jarak jauh, pasti hal yang menyenangkan. Mencari teman baru, membuat tali silaturahmi baru dengan orang lain. Kesemuanya dikategorikan hal yang bermanfaat.

Senin, 11 Februari 2013

0 Aktivitas Lewat Internet


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Aktivis Lewat Internet


Sejauh ini, internet sudah banyak memdampakkan kekeliruan yang parah. Khususnya bagi kalangan usia labil. Internet sekarang selalu tak lepas dari sisi negatif. selain itu juga, menjadi bahan omongan hangat bagi remaja khususnya. Berbicara lewat  jejaring internet, bagi remaja adalah hal yang lebih baik ketimbang belajar, mengerjakan tugas rumah dari sekolah, membantu orang tua di rumah. Ini kesenjangan buruk, biasa kita jumpai, bahkan dalam diri kita sebagai remaja. Saya atas nama remaja, mengakui adanya kesenjangan tersebut. Sebagai seorang remaja, kita seharusnya banyak bergelut pada pendalaman keilmuan, minimal kreativitas yang kita punya. Karakteristik kita akan terbentuk disana. Siapa salah banyak tokoh terkemuka berprinsip legalitas, siapa salah banyak tokoh disegani berprinsip pada kenyataan saat di lapangan. Legalitas dan kenyataan saat di lapangan, sudah mereka alami sedemikian rupa, kemudian mereka kemukakan dengan maksud agar menjadi serapan bagi pendengarnya, rakyatnya, umatnya, pengikutnya, generasinya, keturunannya dan sebagainya.