Tampilkan postingan dengan label Renungan Pembaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Pembaca. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2020

0 Hakikat Menanamkan Sikap dan Nilai Ketauhidan


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Hakikat  Menanamkan Sikap dan Nilai Ketauhidan

Prihatin sebetulnya melihat  fakta, masih banyak dari kalangan umat islam sendiri saling berlelah diri, berkelahi soal aqidah mana yang ahlus sunnah, soal aqidah mana yang paling benar, shohih dan diakui mayoritas umat islam. Padahal Allah SWT tidak pernah menyatakan di dalam ayat sucinya bahwa salah satu diantara beragam macam basis aqidah ini dibenarkan dan ditasbihkan, tidak pula terdapat hadits Nabi SAW untuk membenarkan salah satu dari sekian banyak aqidah islamiyah.

Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berlomba dalam kebaikan. Disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 148,

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam setiap hal sebetulnya kita semua diperintahkan untuk saling melakukan yang terbaik, termasuk dalam beraqidah. Namun bukan berarti kita perlu terpecah belah dan tidak saling bersatu. Umat islam dengan berbagai macam latar belakang aqidah islamiyah, memang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Akan tetapi sebetulnya memiliki asas dan dasar yang sama, yakni mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya dzat yang maha kuasa dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman, yang tiada lagi Nabi Rasul setelahnya.
Umat islam mesti mempelajari kembali hakikat sebenarnya dari keberagaman perbedaan Aqidah islamiyah ini, bahwa perbedaan ini adalah untuk saling berlomba dalam kebaikan, tidak menuntut hal lain. Umat islam secara personal, harus ikhlas mengakui kebenaran di sisi lain, jika memang menemukan kebenaran itu bukan berada di dalam aqidah yang diyakininya. Jangan pernah memaksakan diri merasa dirinya paling benar dan menyalahkan ajaran aqidah lain.

Senin, 03 Agustus 2015

0 Ramadhan dan Lebaran yang Sesak (Sebuah Refleksi dari Hal yang Terlewat, Sebelum Terlambat)


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


(Sebuah Refleksi dari Hal yang Terlewat, Sebelum Terlambat)

Fenomena Ramadhan dan berlebaran tahun ini, mengungkapkan satu kenyataan sesak ketimbang hari-hari besar lain yang ada. Indonesia ini terkenal dengan berbagai macam etnis, budaya, suku, dan kelompoknya dimana-mana. Dinamika inilah yang membuat hari-hari besar di dalam kalender Indonesia ini banyak. Otomatis sisi perayaannya juga memiliki karakteristik dan variasi masing-masing untuk mencapai visi-misi-tujuannya masing-masing pula.
Di tengah keaneka ragaman itu, momen Ramadhan dan berlebaran selalu menjadi momen bagi sebagian besar manusia Indonesia, dengan alasan serupa yakni mempunyai kepentingan di dalamnya. Sebagian besar manusia Indonesia dengan keaneka ragaman itu, dengan etnis,  suku dan kebudayaan itu turut serta. Semua berkepentingan di dalamnya. 
Ramadhan adalah hari-hari berpuasa bagi umat islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan tentunya masuk dalam daftar hari besar di Indonesia, karena hari-hari dalam bulan Ramadhan adalah hari-hari bagi umat islam yang merupakan mayoritas. Hari raya lebaran merupakan satu dari hari besar di negeri ini. Acapkali membuat hiruk-piruk masyarakat saat itu menjadi ramai melintang di jalanan, di terminal, di stasiun, di pelabuhan, di bandara, dan dimana saja selama tempat tersebut dapat memulangkannya. Memulangkannya? Ya, lebaran selalu menjadi hari penuh keramah-tamahan, rasa silahturahmi terasa erat, dan saling memaafkan kesalahan yang telah lama antar sesama. Manusia Indonesia banyak berpulang ke kampungnya, daerah tempat dilahirkannya.
Sayangnya ini hanya berlaku di lebaran saja, keramah-tamahan hanya berlaku sekali setahun, rasa silahturahmi hanya berlaku kali itu saja, dan memaafkan antar sesama hanya kalau ada lebaran saja. Selain lebaran, tidak! Saya rasa tidak untuk hari-hari selain itu. Ramadhan dan Lebaran dibuat sesuatu yang istimewa daripada hari-hari lainnya di Indonesia ini. Hanya di Indonesia, yang saat lebaran meriahnya minta ampun, bukan mainnya, seperti semut keluar dari sarangnya.

Sabtu, 13 Desember 2014

0 Islam Liberal; Antara Harta, Tahta, dan Wanita (Sebuah Refleksi untuk Remaja)


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Islam Liberal; Antara Harta, Tahta, dan Wanita
(Sebuah Refleksi untuk Remaja)


Di saat krisis moneter yang berkepanjangan ini, sudah saatnya kita menjawab serta menguak apa di balik tabir keleluasaan liberalisme ini. Globalisme telah menjangkau hampir semua cakupan lingkup. Namun apa daya, seandainya globalisme ini dibarengi oleh kehidupan yang memperdaya, dimana kebebasan tidak lagi diatur dengan kapasitas sewajarnya. Inilah yang saya maksudkan, liberalisme! Sudah sejak lama kita termakan oleh banyaknya kengerian liberalisme ini. Pemuda-pemuda kita diserang banyak paham pembinasaan karakter, termasuk liberalisme ini. Mereka dicekoki dengan pemberdayaan kebebasan yang ujungnya penyelewengan terhadap norma-norma.
Liberalisme sudah sejak lama menebarkan virus-virus kebebasan berlebih-lebihan, bahkan tiada batas. Dari mulai politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan bidang lainnya, liberalisme tak akan pernah jera menanamkan benih-benih juhal yang menurut kaum modern dianggap sebagai jalan menyenangkan dan terbaik. Padahal sudah jelas ada jalan keselamatan tanpa batas, yaitu islam rahmatan lil alamien, padahal ada akhirat yang berada di ujung penantian (setelah alam barzah), dimana kita akan ditentukan tempat yang sesuai dengan amal perbuatan kita, antara surga dan neraka. Dan mereka belum menyadarinya bahwa semakin mereka mengarah pada pendalaman sisi hitam tersebut, maka semakin pula kesesatan menguasai pikiran-pikiran mereka, hingga mereka turut menyesatkan.
Bagaimana tidak! Mereka bukan saja sesat, tetapi juga menyesatkan. Islam sudah jelas agama yang ditentukan dengan tinjauan historis, filosofis, teoritis yang absah. Tetapi ada saja gerakan hitam-putih yang mengaitkan islam dalamnya, ada saja gerakan yang dibangun atas dasar keraguan, dan ada saja gerakan juhal (gagal) yang mengatasnamakan islam.       
Dalam agama islam, sudah jelas menyandarkan pemikiran ini pada sisi terlarang. Dimana sisi otentik dan membangun dari paham gagal ini tidaklah terbukti jalan kebenarannya. Paham ini menamakan dirinya lebih khusus lagi, yakni sebagai islam liberal. Kok bisa islam ditambah dengan liberal. Padahal islam ya islam! Liberal ya liberal, tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Ibarat saja seperti orang! Orang merupakan sebutan selain manusia. Namun akan berbeda artinya seandainya orang ini ditambahi dengan “utan” yang kemudian menjadi orang utan. Apa makna dibalik orang utan? Anda pasti tahu dan mengerti bukan! Dimana-mana orang utan itu adalah serupa dengan monyet. Apakah anda mau dikatakan monyet? Tidak... pasti anda tidak akan mau. Kecuali bila anda seorang Darwinis.
Begitu halnya dengan islam liberal, apakah anda mau dikatakan islam liberal? Padahal anda seorang muslim. Seorang muslim yang taat pada aturan, norma, nilai-nilai hukum, pasti tidak mau dikatakan islam liberal. Jadi kalau ada seorang muslim bangga dengan keliberalannya, maka perlu dipertanyakan keislamannya. Itu jelas diperuntukan bagi muslim yang masih belum jelas keislamannya, dan mesti diperhatikan secara serius. Karena islam bukanlah agama yang bisa dipermainkan ideologinya, syariatnya, bahkan penamaannya begitu saja.  
Paham islam liberal dengan cepat menyebar di kalangan umat islam di Indonesia. Lantaran gerakan mereka begitu leluasa, sampai-sampai dapat memasuki area pondok pesantren yang merupakan titik-titik sentral islam nusantara. Banyak pemuda yang sudah terpengaruh dengan pemahaman mengerikan ini, termasuk pemuda pesantren. Itu berarti paham gagal dan juga juhal ini, telah berhasil mempermainkan sebagian dari generasi penerus bangsa. Akan sangat berbahaya sekali jika keadaan ini terus melonjak, meningkat seiring waktu berjalan.
Ada banyak buku yang menerangkan tentang bahayanya liberalisme, ini dikarenakan liberalisme bukanlah ihwal yang perlu dikompromi lagi. Andaikata liberalisme ini adalah sebuah bagian dari badan (anggota tubuh kita), maka liberalisme adalah sebuah hawa nafsu yang mesti kita buang jauh-jauh. Islam liberal sendiri sebenarnya adalah paham yang meliberalkan dirinya sendiri dan mengaku jati dirinya sebagai bagian dari islam yang kaffah, padahal islam tidak pernah menyandarkan pada asas-asas yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, seperti yang termaktub dalam paham ini. Jadi, tidak ada istilahnya islam menyandarkan diri pada paham yang jelas-jelas nyeleneh, ngarung ngidul, dan bahlul.
Dan ini yang paling penting, lain daripada yang lain. Karena ini menyangkut stabilitas keislaman kita, terutama kaum pemuda. Remaja kita seringkali terjebak dalam ilusi menggiurkan, yang hakikatnya dimensi kengerian, hingga membuat satu posisi dilematis yang membingungkan. Akhirnya dalam kebingungan itu, walaupun sebelumnya mereka (remaja) memiliki keinginan kuat untuk tidak terjerumus, memiliki keimanan cukup untuk selalu percaya dan yakin terhadap apa-apa yang harus diimani, tetap saja dapat terjerumus. Buktinya sudah banyak remaja yang dahulunya seorang aktivis keislaman, namun berubah secara mengejutkan seiring tertular paham yang menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah, termasuk salah satu dalamnya liberalisme, yang selain itu juga ada sekuralisme, kapitalisme dan lain sebagainya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

0 Wajah “Kita Semua” dari Pra sampai Pasca Lebaran


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Wajah “Kita Semua” dari Pra sampai Pasca Lebaran

Banyak orang menyalah artikan lebaran yang biasa kita semua rayakan sekali setahun. Baik sebelum dan sesudah lebaran, selalu hal. Dan sekarang lebaran sudah terlewati waktunya, akan tetapi perkara hedonisme dan materialisme masih saja tertanam begitu kental di dalamnya, dan membekas seterusnya. Menjadi rayuan ampuh dan berpengaruh masa kini, sampai-sampai menjadi bumbu penyedap di dapur rumah tangga.
Pra lebaran, sebelum momentum lebaran atau yang dalam islam lebih dikenal dengan Idhul Fitri terjadi, memang membuat hiruk-piruk masyarakat Indonesia beramai-ramai menyambutnya dengan antusias dan menjadikan kepentingan tiap individunya. Semua tidak ingin melewatkan kesempatan setahun sekali ini tanpa mendapatkan apa-apa, semua ingin mendapatkan setidaknya keuntungan kecil dan sedikit. Segala macam usaha dikerahkan, sampai usaha kotor pun diusahakan.
Hampir setiap kali menjelang lebaran kasus-kasus kehilangan, pencurian, dan kriminalitas lain, terjadi begitu saja secara lumrah.Masyarakat yang sudah mempersiapkan keperluan-keperluannya untuk mempersiapkan lebaran, kebanyakankurang dan tidak berpikiran peka terhadap masyarakat di sekitarnya. Zakat paling-paling hanya dijadikan ritual pemberian seadanya, padahal ada begitu banyak yang masih bisa diberikan saat zakat tersebut.
Kasus-kasus seperti kehilangan, pencurian, dan kriminalitas lain, awalnya bukanlah suatu hal lumrah, tentu ada awal mula mengapa pra lebaran ini selalu dihiasi dengan kasus-kasus kriminalitas tersebut. Jika disangkut pautkan, kita akan mendapati titik temu, melihat bagaimana masyarakat kita saat mempersiapkan momentum lebaran. Seperti diungkapkan dalam paragraf sebelumnya, bahwa ada ketidak-pekaan diantara kita semua selaku Human Life Sosiality.

Sabtu, 21 Desember 2013

0 Memelihara Sikap Muraqabah


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Memelihara Sikap Muraqabah



لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
                                                     (QS. Al-Baqarah: 284)

Secara mengecewakan, golongan pemuda kita begitu banyak yang berkecimpung dalam dunia yang tak ada gunanya sama sekali. Keberadaan mereka dikarenakan oleh banyak sebab yang berakibat dari lepasnya perilaku yang bebas. Perilaku yang bebas ini membuahkan paradigma kesenjangan, dimana tidak adanya moral yang berkecamuk dalamnya. Padahal moral atau asusila sangatlah dibutuhkan dalam menghadapi sikap tercela yang semakin membabi-buta saja. Sebelumnya saya akan bertanya terlebih dahulu kepada pembaca yang budiman, adakah anda mempunyai peliharaan semacam kucing, burung merpati, burung kakak tua atau lain sebagainya yang anda sayangi? Jika ada, apakah anda merasa mempunyai dan menyayangi peliharaan itu? Tentu anda menyayanginya dan akan  merawatnya segenap hati sebagaimana perilaku kita terhadap hewan, apalagi hewan itu adalah sebuah peliharaan.
Anda tidak akan menyayangi hewan peliharaan tersebut, seandainya anda tidak merasa mempunyainya atau anda tidak merasa harus andil dalam memelihara hewan itu, sehingga anda tidak menyayangi dan merawatnya sebagaimana mestinya. Pikirkan! Buat apa anda membeli hewan itu, kalau hanya untuk pajangan saja, tanpa disayangi dan dirawat dengan baik. Buat apa pula anda mempunyai hewan peliharaan tersebut sedang anda diamanahi menjadi seorang khalifah yang menyayangi semua makhluk ciptaan Allah SWT. Otomatis kita harus andil dalam memeliharanya. Kita juga harus andil dalam memenuhi haknya sebagai hewan peliharaan. Karena siapa lagi yang akan menyayangi selain kita.
Bicara masalah memiliki, tentu kita akan berbicara juga tentang kepribadian. Karena kepemilikan seseorang itu tergantung dari kepribadiannya, dan begitu pula sebaliknya. Bagaimana kita menggunakan apa-apa yang jadi kepemilikan kita dengan baik. Otak, mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, jari-jari, dan lain sebagainya yang kita miliki adalah satu dari banyak contoh bahwa kepemilikan itu tergantung pada pribadinya tersebut. Otak yang cerdas, itu berarti seorang yang memilikinya itu telah berbuat langkah mengasah yang benar terhadap otaknya. Mata yang jernih dan penglihatannya, itu berarti seorang yang memilikinya adalah orang yang selalu memakai matanya untuk kepentingan kebaikan semata tanpa melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat, seperti melihat sesuatu yang bukan haknya. Telinga dengan pendengaran baik dan jeli, seorang yang memilikinya adalah orang yang tidak pernah mendengarkan hal-hal buruk, seperti mendengarkan gosip dari orang. Mulut dengan alat perasa baik, cara bicara yang baik, dan segala sesuatu yang dikeluarkannya baik, seorang yang memilikinya adalah orang yang tidak pernah sedikitpun berkata, berbicara, memakan, mengeluarkan sesuatu yang tidak pantas seperti meludah sembarangan, berbicara tentang gosip, dan berkata yang jorok.

Senin, 30 September 2013

0 Pesan Pemuda Bangsa, Demi Negerinya


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Pesan Pemuda Bangsa, Demi Negerinya


Pernahkah anda mengalami permasalahan rumit, seakan tak bisa terselesaikan? Jawabanya pasti seringkali. Pertanyaan ini amat pantas untuk penghuni negeri rumit ini, Indonesia. Saya selalu rumit jika membicarakan negeri ini terutama membicarakan masalah negeri ini, bahkan sebelum membicarakan permasalahan negeri ini. Tentu karena saya merasa negeri ini terlalu parah untuk menjadi sebuah negeri. Lebih baik negeri ini tak menjadi negeri sekalian, jika banyak dari kaum pribuminya yang terlantarkan. Lebih baik negeri ini dijajah kembali oleh kolonialis, daripada harus terjajah globalis mengerikan. Di masa penjajahan, negeri ini memang menderita parah, tapi lebih parah lagi jika negeri ini terjajah hedonisme, liberalisme, sekulerisme, intinya terhadap akhiran -isme yang membahayakan itu.
Ya, sebenarnya ini hanya sebuah umpamaan saja, perbandingan antara hal yang terburuk terhadap hal yang sangat buruk. Membayangkannya saja, sudah se-rumit mengukir di atas air, dan mencoba untuk menyelesaikan persoalannya serupa mengukir di atas batu. Bayangkan keduanya, mengukir di atas dua hal yang sama-sama menyulitkan. Mengukir di atas air itu sudah barang tentu, tidak akan ada orang yang bisa mengukirnya (kecuali jika air itu dibekukan), jadi membayangkan permasalahan negeri itu sama saja mengukir sesuatu yang tidak mungkin dapat diukir. Dan mencoba untuk menyelesaikan permasalahan negeri ini, sama dengan mengukir sebongkah batu yang hanya harus membutuhkan ketelatenan, keyakinan, kerja keras dan kepercayaan akan terselesaikan. Maka, demikian penulis menggambarkannya sebagai suatu pengantaraan. Pertanyaannya, adakah diantara kita yang berusaha untuk menyelesaikan permasalahan di negeri ini?.

Rabu, 26 Juni 2013

0 Budaya Koruptif dalam Diri Remaja


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Budaya Koruptif dalam Diri Remaja

Kalau ditanya soal negeri terkorup di seluruh dunia, maka negeri ini adalah juaranya. Sudah tak perlu panjang dan lebar dibahas kesana-kemari, mengapa negeri yang kaya ini justru menjadi negara terkorup di dunia, terlalu panjang untuk dijabarkan. Sekarang yang perlu dibahas adalah problema yang melanda remaja kita ini, yang juga ikut-ikut korup dalam membudidayakan sikap keremajaannya di kehidupan sehari-hari.
Budaya koruptif tengah meracuni remaja-remaja kita yang diakibatkan oleh contoh-contoh tidak baik dari para pendahulunya. Dimana saja, kapan saja selalu ada budaya koruptif dengan beragam wajah, oknum, dan tingkat strata masyarakat. Akhirnya, remaja juga yang kena cipratannya. Remaja yang seharusnya diayomi agar tidak labil, malah dipertontonkan berita-berita yang isinya itu-itu saja, pasti kaitannya dengan penyelundupan, pasti kaitannya dengan penggelapan, pasti kaitannya dengan korupsi, dibawah satu payung KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Bukan masalah beritanya, permasalahannya terletak pada isi berita yang kian membuat miris bangsa ini. Tidak ada habis-habisnya, selalu saja menjadi topik yang tidak ada henti-hentinya dibicarakan.
Tentu ini menjadi permasalahan kita semua sebagai bangsa yang mendiami negeri ini. Karena biar bagaimanapun, negeri ini nanti akan memiliki tunas bangsa yang akan menjadi penerus pendahulunya. Nah, realitanya negeri kita sekarang ini sedang mengalami krisis yang berkepanjangan dengan tingkat kesejahteraan rendah. Untuk saat ini, akan sangat sulit mengeluarkan negeri  dari krisis yang tengah melanda ini. Ya, paling tidak dengan ini, walaupun kita sulit keluar dari situasi seperti ini, kita sepatutnya sadar posisi kita sekarang. Situasi yang mendesak diri sendiri saja, kita harus hadapi dengan semangat, apalagi situasi menyangkut nama martabat bangsa dan negara, jangan sampai kita malas-malasan.
Ini tentang remaja. Remaja kita dengan mudah menghirup kebiasaan-kebiasaan koruptif. Dan ada kemungkinan nanti, mereka akan mengikuti sikap dan tingkah laku yang berbau koruptif dengan tingkat yang amat parah melebihi pendahulunya. Mereka bisa saja ikut korupsi seperti pendahulunya, tidak sebatas sikap dan tingkah laku koruptif yang biasa mereka mainkan saat ini. Mereka juga dapat menyelundupkan apa saja yang mereka butuhkan demi keuntungan sendiri tanpa memikirkan orang lain, karena mereka akan lebih parah dari pendahulunya. Penggelapan berupa uang bermilyaran, triliunan yang biasa dilakukan pendahulunya, akan mereka lakukan bahkan melampaui keserakahan pendahulunya. Karena para remaja ini tengah menghadapi tekanan dari segala penjuru, berbeda dengan orang zaman dulu, para pendulu kita yang hidupnya tidak diiringi oleh informasi dan teknologi yang memadai. Ya, semoga saja tidak terjadi hal-hal separah itu.
Untuk itu penting bagi seorang pemerhati pendidikan untuk memperhatikan nasib anak bangsa ini. Para orangtua dan guru sebagai orang-orang terdekat dan disegani, mempunyai andil dalam meluruskan anak-anaknya. Ada beberapa contoh kenakalan remaja menyangkut budaya koruptif yang kini semerbak di tanah air ini.
Pertama, kasus contek-mencontek. Dalam bidang pendidikan, kasus ini sudah lama menghiasi sektor ujian nasional di tanah air ini. Sekian lama kita terjajah oleh contek-mencontek, dan secara gamblang dianggap oleh kita sebagai sesuatu yang biasa dilakukan, ditradisikan, dan dibanggakan tiap tahunnya. Naas sekali melihat selang pandang seperti ini. Lebih parah lagi, contek-mencontek ini tidak hanya menggerogoti bidang pendidikan, tetapi ikut menggerogoti bidang lainnya. Seperti dalam sektor pers dan entertaiment. Negeri ini telah banyak mencontek konsep barat dalam pengadaan reality show, kontes penyanyi, kontes kecantikan dan lain sebagainya. Indonesian Idol, yang mencontek American Idol dari mulai penjurian, peserta, cara penyeleksian, proses eliminasi, semuanya mengikuti American Idol, bahkan lay out tulisan Indonesian Idolnya pun mengikuti American Idol. Indonesian Idol memang tidak ada lagi, tapi hal ini tidak menjerakan pihak terkait. Muncul kemudian X-Factor menggantikan Indonesian Idol. Ini belum seberapa karena masih ada banyak lagi. Anda sendiri bisa menilainya, jika menonton televisi.
Negeri ini seperti kekurangan kreativitas, padahal ada banyak ide-ide kreatif yang bisa diaplikasikan, kalau saja suara-suara hati tersebut mau didengarkan. Jangankan mendengarkan ide-ide kreatif tersebut, mendengarkan suara kebenaran pun tak pernah sama sekali. Inilah jadinya negeri ini, negeri yang latah dan penuh intrik berbahaya. Negeri ini sudah terpengaruh banyak campur tangan barat, sehingga proses perkembangannya pun harus mengikuti kemajuan barat. Padahal apa jaminan negeri ini maju dengan sistem yang mereka terapkan. Adanya hanya sistem penghancur perlahan-lahan, bukan sistem yang mendukung perkembangan negeri ini ke depan.
Kita hanya masih belum sadar saja, tengah menghadapi dekadensi moral yang parah. Pasti anda setuju kalau budaya latah itu adalah budaya orang penguntit, tak berpendirian, dan parahnya sampai mencuri. Orang penguntit itu orang yang tidak disukai keberadaannya karena dianggap selalu mengikuti kemana saja arah tujuan seseorang. Mereka tak berpendirian, karena mereka selalu mencontek tiap gerak-gerik orang yang mereka ikuti. Terakhir mereka akan mencuri konsep yang mereka sudah pahami, dan mengaku-ngaku kalau konsep tersebut adalah konsep atau sistem yang mereka buat dengan jerih payah sendiri. Lebih parahnya lagi, mereka akan menghilangkan dan memusnahkan dokumen-dokumen, manuskrip-manuskrip, tentang konsep sebenarnya, tentu beserta dengan pembuat dan penggagas awalnya. Amat bahaya bukan seorang penguntit, ia dapat menjadi seorang mata-mata dan pencuri ulung. Itulah yang terjadi sekarang, negeri ini tengah dididik untuk menjadi seorang penguntit, agar mereka mempunyai anak-anak buah yang patuh terhadap mereka. Bukankah mereka terkenal dengan penguntit? Yang tidak senang memiliki pesaing disampingnya.

Senin, 03 Juni 2013

0 Khauf dan Raja’: Keseimbangan Spiritualitas Muslim


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Khauf dan Raja’: Keseimbangan Spiritualitas Muslim


“Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang  (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan [76]: 10)

Dalam ayat di atas dikemukakan bahwa sesungguhnya manusia takut terhadap azab yang diberikan oleh tuhan. Mereka takut seandainya digolongkan sebagai orang yang bermuka masam, lantaran mereka akan selalu dihadapkan pada akhir kenyataan yang pahit. Dijamin dan dipastikan golongan bermuka masam ini akan mendapati kesulitan di akhirnya, termasuk memperoleh azab yang pedih. Hanya penyesalan yang kemudian terlontarkan dari mulut mereka. Benak mereka pun hanya terisi pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Bagaimana caranya saya bisa diampuni oleh Allah, Tuhan Semesta Alam? Apa jalan keluar dari semua ini? Ya Allah bisakah kau kembalikan saya pada masa itu (dimana saya melakukan banyak dosa)? Saya akan memperbaikinya, Dan lain-lain... semuanya jelas percuma. Maka jangan sampai kita menyesal di akhir. Menyesal-lah di pertengahan sebelum beranjak dan melangkah lebih jauh.
Sesuai dengan keterangan Al-Quranul Karim, maka orang-orang yang berbuat kebajikan-lah, yang dapat terhindar dari golongan bermuka masam, dimana orang-orang bermuka masam ini akan selalu menghadapi kesulitan dimanapun dan kapanpun. Orang-orang yang berbuat kebajikan akan senantiasa melajurkan dirinya pada jalan yang lurus, mereka selalu bersyukur terhadap apa yang menjadi pertimbangan (ketentuan) Allah SWT. Mereka juga selalu takut akan berbuat sesuatu yang semena-mena, sembrono, dan tak terkontrol. Intinya mereka selalu takut! Harta darimana yang mereka dapat, makanan apa yang seharusnya mereka makan, pengaplikasian sikap, sifat dan perbuatan, semuanya dipertimbangkan dan dipikirkan betul-betul, demi sebuah kategori halalan toyyiban. Lantas bagaimana solusi supaya kita senantiasa takut (punya perasaan takut) terhadap Allah SWT? Kita akan membahasnya setelah penjelasan ayat berikut ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, maka mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 218)   
 
Umpama seperti orang-orang berhijrah ke tempat yang jauh dari keramaian, sorak-sorai bising, dan keduniawian yang menggiurkan. Seakan mereka hidup sendiri tanpa sapaan, tanpa perbincangan menjerumuskan, tanpa mengenal yang lain. Semua itu terjadi karena mereka yang berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan, tidak melanggar syariat islam, lebih mengutamakan kebaikan, kebenaran, hal-hal positif, terlebih cinta Allah SWT, daripada harus terjerumus keduniawian fana (fasad) yang bisa saja membawa mereka pada kemaksiatan. Mereka yang seakan sendiri itu, yang seakan hidup di negeri yang sepi tanpa mengenal, telah rela meninggalkan semua kesenangan sementara. Harta yang telah mereka miliki, mobil, motor, rumah, perusahaan, saham investasi, hotel, apartemen dan segalanya telah mereka tinggalkan.
Harapan mereka bertumpu pada Allah SWT. Harapan besar inilah yang mereka yakini. Mereka beriman kepada Allah, Malaikatnya, Kitabnya, Rasulnya, Hari Kiamat, Qadha dan Qadar. Mereka berhijrah dan berjihad demi mengharap rahmat Allah SWT. Dengan berkorban di jalan Allah SWT, mudah-mudahan mereka dapat cinta Allah. Dengan berjihad di jalan Allah, mudah-mudahan mereka digolongkan kepada orang-orang yang beruntung, bukan orang-orang yang rugi. Dengan kualitas keimanan mereka, mudah-mudahan aqidah dan itikadnya dapat dipertahankan.
Kedua ayat serta penjelasannya tadi, mengingatkan kita pada Khauf dan Raja’. Ayat pertama mengungkapkan tentang ketakutan hamba Allah yang dalam bahasa arab disebut Khauf. Kemudian pada ayat kedua dijelaskan, bahwa hanya orang-orang beriman, orang-orang berhijrah dan berjihad di jalan Allah yang mengharap rahmatnya, karena mereka-lah yang percaya, meyakini, merasakan begitu indahnya jalan Allah. Dan inilah Raja’ yang berarti mengharap dan pengharapan. Dari sinilah kemudian penulis mengembangkan pembahasan secara lebih spesifik. Ini kaitannya dengan Khauf dan Raja’, dimana dua dimensi ini akan jadi dasyat, seandainya keduanya dikolaborasikan dan diseimbangkan tanpa melebihi kadar sewajarnya.