Tampilkan postingan dengan label Kampusiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampusiana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 April 2017

0 Selamatkan Indonesia dengan Semangat Kebersamaan Non-Kapital


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Selamatkan Indonesia dengan Semangat Kebersamaan Non-Kapital

Mengenai berbagai macam kebijakan di dalam pemerintahan, sudah barang tentu sewajibnya menghasilkan satu efek positif tentang bagaimana selanjutnya dapat memulai babak baru yang bersifat realitatif, idealitatif, dan bahkan inspiratif. Indonesia sebagai penyandang demokrasi, yang dalam arti sebenarnya menginginkan adanya proses kebersamaan, bekerja kebersamaan, dan hasil kebersamaan, yakni dengan kata kunci “rakyat” sebagai simbol dari kebersamaan tersebut, justru tidak mencerminkan kebersamaan sebagaimana mestinya sesuai dengan demokrasi.
Para pemimpin Indonesia, dari tahun ke tahun tidaklah menjawab dengan serius, real, ideal, dan bijak, begitu dihadapkan kepada tanda-tanda Tanya besar  tentang arti sebuah kebersamaan secara langsung. Padahal secara langsung, orang yang tidak berpendidikan tinggipun mengetahui arti kebersamaan, jika berangkat dari praktek, aplikasi sehari-hari. Karena mereka lebih merasakan persahabatan, pertemanan, komunikasi sosial tanpa batasan usia, status, materi, vinansial, fisik, dan rohani, kebanding pemimpinnya yang berpendidikan tinggi, dan serba memilih-milih teman, sahabat, dengan batasan tertentu.

Rabu, 16 Oktober 2013

0 Identik Terorisme; Pesantren?


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Identik  Terorisme; Pesantren?
(Mengingat Kembali)


Sengaja para anti-islam menamakannya demikian. Agar islam senantiasa diluputi rasa gusar dan ketakutan. Islam dinilai bertolak-belakang dari pelbagai aspek yang mendukung zaman modern ini. Terorisme! Siapa yang salah sebenarnya dibalik ini semua? Jawabannya sangat jelas, anda bisa menebaknya bukan. Karena identik barat mulai menggerogoti segala aspek yang berkaitan dengan sektor pembangunan kembali dunia islam, khususnya di sektor sosial-politik. Maka secara perlahan kemajuan dunia islam terhambat pasca kemunduran sampai kehancuran khilafah islamiyah. Namun demikian pesantrenisasi besar-besaran yang diprakarsai oleh para alumni timur tengah (orang Indonesia yang belajar di timur tengah) berwarga-negara asli Indonesia, telah menjawab esensi pola kehidupan umat islam sebagai titik kemajuan kembali. Serta menjabarkan lebih akurat terkait dekonstruksi khilafah islamiyah.
Pondok Modern Gontor, PP. Al-Amien Prenduan, PP. Darunnajah, PP. Tebuireng, PP. Nurul Jadid, PP. Sidogiri dan sebagainya, adalah usaha, kerja keras, dan hasil putra nusantara, bergelut dalam islamisasi yang saat itu terancam oleh adanya penjajahan. Kristenisasi kolonial Belanda dan ajaran-ajaran pendewaan matahari (hinomaru) oleh Jepang, menjangkit ke seluruh pelosok nusantara, kala itu. Kita mulai dari kolonialisme. Perjuangan rakyat berkobar dimana-mana, tanpa pandang senjata, tanpa pandang status. Dengan peralatan seadanya, rakyat terus maju menentang kolonialisme, walau harus mati sekalipun. Ada gerakan petani, bangsawan, buruh, raja-raja kecil, pangeran-pangeran, adipati-adipati, anggota militer bangsa, bahkan para santri yang masih belia baik dalam pengalaman bertempur maupun tinjauan umur, semua membabi-buta berjuang melawan kolonialisme.
Gerakan-gerakan menentang penjajahan ini terus berlanjut, termasuk para santri belia itu. Mereka terus berusaha melajurkan negeri ini pada rute dan arah yang aman. Sehingga tidak sedikit dari kalangan santri yang syahid (gugur) dalam medan pertempuran. Mereka rela mengorbankan waktu, materi, tenaganya demi negeri yang kacau oleh kemelut penjajahan. Kolonialisme saat itu sedang merajai dunia. Pengaruh terbesar dan tersebar dengan berbagai macam tindak-tanduk, menghalalkan segala cara. Tekanan kolonialisme ini, serentak menyandarkan nusantara sebagai penghasil sumber daya alam paling kaya, yang harus kehilangan kenyataan manis. Sampai kemudian kolonialisme berakhir, setelah 350 tahun.
Setelah berakhirnya kolonialisme, negeri bukan malah membaik. Kolonialisme berganti kepada masa-masa lebih genting. Jepang dengan ajaran Shinto, pendewaan terhadap matahari (hinomaru) menambah penderitaan bangsa ini selama 3,5 tahun. Inlander (sapaan orang Belanda kepada kita) berganti dengan romusha. Bangsa ini dibilang bangsa pekerja, bangsa yang sia-sia hidup. Sehingga sempurna-lah penderitaan bangsa ini. Diperparah oleh pergulatan politik barat yang menghancurkan, yang tiada habisnya. Tepatnya dari mulai Perang Dunia I sampai II. Semua seakan menindak lanjuti keterpurukan negeri ini, walaupun melihat banyak potensi dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh negeri lain.
Penjajahan terdahulu untungnya masih menyisakan suasana terbaik, dimana negeri mendapatkan haknya, freedom of country! Indonesia dapat merdeka setelah sekian lama mengalami polemik internal dan eksternal. Tahun 1945 dimana Indonesia mengakhiri krisis penjajahan berkepanjangan. Indonesia memulai hidup baru tanpa kolonialisme dan pengaruh shinto (ajaran-ajaran pendewaan matahari). Namun nyatanya ini masih belum cukup mengantarkan negeri ini pada kemakmuran hidup yang diimpikan. Kemerdekaan yang didapat negeri ini hanya sebatas merdeka lewat pernyataan resmi, merdeka yang hanya lepas dari penjajahan tanpa kemakmuran dan kesejahteraan.
Oleh karenanya muncul-lah gerakan saparatis anti-pemerintahan, seperti pasukan Darul Islam, pemberontakan Ibnu Hajar, pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), AMI (Anggota Muda Islam) dan lain sebagainya. Pemberontakan-pemberontakan ini hadir karena didasari oleh rasa ketidak puasan terhadap pemerintah. Golongan-golongan ini adalah golongan yang mengatas-namakan islam. Dan kita tidak mengetahui secara pasti apakah mereka benar-benar memberontak dengan tujuan ingin membuat kerusakan pada negeri ini, atau mungkin mereka hanya mengatas-namakan islam sehingga mereka dapat mencoreng muka islam dengan berbagai macam pemberontakannya, atau mungkin saja sebenarnya mereka tak ada niat untuk memberontak. Mereka hanya dituduh sebagai kelompok saparatis yang kemudian membuat mereka tak menerima pernyataan tersebut sampai akhirnya melawan. Bisa saja bukan, sejarah bisa saja dipalsukan. Sehingga sejarah memuat pernyataan yang salah dan fatal.
Pengkajian secara ilmiah harus dibuktikan. Mengingat dampak yang begitu besar akan terjadi seiring waktu berjalan. Saya begitu tahu bagaimana pejuang-pejuang dengan begitu susah payah mempertahankan kemerdekaan ini pasca Proklamasi. Dari kembalinya Belanda dan sekutu ke Indonesia dalam bentuk NICA, kemudian datangnya PKI (Partai Komunis Indonesia), APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), RMS (Republik Maluku Selatan), Batalyon, MMC (Merapi Merbabu Komplek), PRRI (Perjuangan Revolusioner Republik Indonesia), Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) ke Indonesia bersamaan pemberontakan-pemberontakan kelompok islam yang telah disebutkan tadi. Sejarah jangan sampai menjadi racun yang memunafikkan kita semua. Sejarah Indonesia terbilang masih tabu, hitam-putih dan kandungan kontroversial, menjadi satu dalamnya. Bagaimana tidak memungkinkan terjadinya pengaturan sejarah palsu. Bisa saja ini sejarah palsu.
Mohon maaf... ini bukan masalah kepercayaan dan ketidak-percayaan, ini masalah benar atau salah. Kalau toh sejarah ini benar, mengapa tidak! Kita pasti percaya sepenuhnya. Dan kalau toh sejarah ini salah mengapa tidak kita perbaiki bersama-sama. Demi anak-cucu kita kelak yang mempelajari sejarah kebudayaan ini. Saya tidak-lah memvonis sejarah tidak benar (salah). Saya juga tidak mengklaim sejarah ini sebuah kemunafikkan. Saya hanya khawatir, seandainya sejarah ini benar-benar jauh dari nilai kebenaran, lantas siapa mau tanggung jawab? Anak-cucu kita sudah terlanjur dicekoki sejarah yang salah, misalnya. Kita perlu memikirkan jalan keluarnya.
Dalam sejarah sepertinya islam dicoreng-moreng dengan pelbagai tindak negatifnya. Bahkan sampai sekarangpun, islam terus dihujat dengan bermacam kedigdayaan doktrin gagal (paham gagal). JIL, Jama’ah Ahmadiyah, gerakan islam sekuler dan lain sebagainya, semuanya adalah paham gagal, dimana kebebasan berpikir kini disalah-gunakan, tidak sesuai dengan pengamalan syariat islam. Sekarang tiada lagi kebebasan berpikir, yang ada hanya kebebasan bertindak. Main hakim sendiri, main vonis sana-sini, membuat doktrin asal menarik, asal canggih, dan asal dapat keuntungan duniawi. Bukan main edan pemikiran ini. Sampai-sampai terkikis aqidah dan itikad seorang muslim.

Senin, 22 Juli 2013

0 Pondok Pesantren Sebagai Ujung Tombak Perekonomian Sosial


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Pondok Pesantren Sebagai Ujung Tombak Perekonomian Sosial


Siapa yang tidak senang jika masyarakatnya sejahtera. Tentu semuanya menginginkan betul, melihat suasana hidup yang aman dan tentram, merasakan betapa nikmatnya kehidupan yang kita lakoni. Satu yang perlu dicatat bahwa dalam dilematisasi zaman seperti sekarang ini, dengan kategori  neo-globalisasi, perekonomian telah menjadi bidang kemaslahatan yang menebar buih-buih pembangunan dalam begitu banyak dinamika kemasyarakatan. Pembangunan tidak lepas dari perekonomian, dinamika kemasyarakatan telah dipenuhi  dekonstruksi pemerataan tingkatan sosial serta strata sosial. Dibutuhkan eksistensi untuk menjalin kinerja yang solid dan konsis sampai masa mendatang.
Pondok pesantren adalah salah satu pergerakan yang menanamkan nilai-nilai dasar yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits, dengan kata lain pergerakan ini bukanlah satu pergerakan yang dibentuk begitu saja secara lumrah, ada tujuan tertentu mengapa terdapat pembentukannya. Proses pembelajaran yang diberlakukan juga mengacu pada Al-Quran dan As-sunnah (Hadits), sehingga dapat berkesinambungan dengan arus zaman. Kita lihat saja tatanan kehidupan pondok pesantren sebagai satu contoh sampel tingkat serta strata kehidupan yang baik dalam berdinamika.
Dalam bidang ekonomi, pondok pesantren merupakan gerakan spiritual amal yang bersosialisasi langsung dengan masyarakat. Namun sejauh yang kita ketahui, pondok pesantren bukanlah pergerakan ekonomi yang faknya adalah mengentaskan kemiskinan yang kini semakin meraja lela saja. Hanya saja, pesantren adalah satu pengembang perekonomian dalam pembangunan negara.
Banyak Pengembangan di bidang ekonomi, pada umumnya pondok pesantren berkecimpung dalam berbagai jenis usaha ekonomi di sektor pertanian (agrobisnis), telekomunikasi, koperasi, bahkan manajemen pemasaran tradisional. Hal ini dapat dipahami mengingat sebagian besar atau 78,5% dari 14.067 pondok pesantren berkedudukan di daerah pedesaan. Dengan kegiatan pengembangan ini pondok pesantren meraih minimal tiga manfaat sekaligus, yaitu pertama, mendidik dan membekali para santri dengan pengetahuan, keterampilan, dan jiwa kewirausahaan, kedua, mendidik masyarakat sekitar pondok pesantren tentang cara-cara dan teknis yang lebih maju dalam menjalankan usaha seperti pertanian (agrobisnis) yang pantas diberlakukan di pedesaan, dan sekaligus memperkenalkan berbagai komoditas baru yang mempunyai nilai ekonomi yang lebih baik, serta ketiga, meningkatkan dan menambah sumber-sumber pendapatan bagi pondok pesantren dan masyarakat. Dari sini apabila terjalin hubungan kerja yang harmonis, tak ayal usaha akan lancar karena semua elemen perekonomian bergerak, menguntungkan semua yang berkecimpung dalam sinergi perekonomian tersebut, dan satu lagi, yakni dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Minggu, 21 April 2013

0 Membudidayakan Literasi, Membangun Persepsi


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Membudidayakan Literasi, Membangun Persepsi


Salah satu tombak kemajuan suatu peradaban adalah terdapatnya tradisi ilmiah (keilmuan) dan intelektual. Tradisi inilah yang melahirkan tonggak-tonggak peradaban, yang tidak lepas dari tulis-menulis, tidak lepas dari baca-membaca, dan selalu menghasilkan segala kesepakatan dengan proses musyawarah, diskusi ilmiah, dan kajian pemufakatan. Sehingga dapat berjalan dan bertahan.

Senin, 11 Februari 2013

0 Kembali ke Pesantrenisasi


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Kembali ke Pesantrenisasi

Selalu dan wajar. Seumpama kita menapakkan kaki dari kedinian dengan penuh tatih dan lelah. Dari kecil banyak menemui kesalahan, kekurangan sampai kegagalan. Pesantrenisasi, suatu kata menarik untuk diperbincangkan. Awal kali cikal bakal, pesantren adalah satu populasi tak menentu. Dengan reproduksi permulaan yang sederhana, namun berkualitas dengan penyesuaian sistematika. Masyarakat memang butuh suplemen-suplemen keagamaan, dan sampai sekarang pun masyarakat butuh suplemen tersebut.
Pesantren dibangun dengan nilai perjuangan. Siapa yang tidak tahu KH. Hasyim Azhari, KH. Wahid Hasyim, KH. Imam Zarkasyi, KH. Djauhari Khotib dan lainnya. Mereka semua ialah nilai, tolak ukur, bukti perjuangan. Tetes keringat mereka tak sebanding dengan deras keringat kita saat ini, yang hanya dan selalu khilaf, pantang maju pada medan laga, dan pahlawan kesiangan. Lelah mereka, tatih mereka sampai pada kegagalan, tidak mengurangi sedikit  pun tekad awal mereka. Lantaran satu yang menjadi kongritas, "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda". Mereka tak peduli reputasi mereka anjlok oleh cacian, makian, dan olok-olokan tak penting. Terpenting adalah kegiatan mereka menimba pahala dan nantinya menuai benih kesuksesan. Ini wajib kita miliki. Karena ini adalah sesuatu yang jarang ditemui tanpa perjuangan, usaha, dan kesungguhan. Representasi ini adalah bukti sekaligus kaca perbandingan dengan zaman sekarang. Bahwa pesantren jangan diremehkan.
Pesantren bersama eksistensi tak wajar. Bagaimana perkembangan pesatnya di era mutakhir. Sesuatu yang tak lazim dan wajar menurut kaca mata awwam. Dengan berbagai macam sistematika dan multi metodelogi, pesantren berkembang dan maju dengan cepat mengikis sekulerisme, westrenisme dan segala doktrin kebarat-baratan. Lihatlah sampai sekarang! Pesantren terbentang dimana-mana (di seantero Indonesia). Dan justru mampu menyesuaikan di era globalisme mutakhir. Tentunya dengan keaneka ragaman kultur masing-masing.