Rabu, 03 April 2013

3 Kisah Uang Seribu dan Seratus Ribu


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Kisah Uang Seribu dan Seratus Ribu


Tersebutlah dalam sebuah dompet dua carik uang kertas. Yang satu bernominal seratus ribu rupiah dan yang satunya bernominal seribu rupiah. Sebelumnya mereka terpisah karena diambil dari tempat yang berbeda. Keduanya juga punya ciri-ciri yang berbeda. Uang seratus ribu tampangnya begitu apik, bersih, ganteng, berseragam necis, disukai banyak orang dan tentunya oleh para wanita, ya ibarat kata seperti playboy itulah. Sedang uang seribu dengan gayanya yang jadul, lusuh, berseragam ala kadarnya, seperti seorang semi fakir miskin. Keduanya sama-sama dibawa dalam dompet, oleh seseorang yang saat itu akan berpergian ke suatu tempat. Jadilah jumlah nominal uangnya tersebut menjadi seratus satu ribu rupiah. Dalam keadaan berpergian tersebut terjadilah percakapan antar keduanya. Mereka bertanya satu sama lain dengan percakapan kira-kira seperti ini:

Uang seratus ribu: “Hei seribu! Ngapain kamu disini? Bikin ganggu pemandangan aja...”

Uang seribu: “Saya cuman numpang disini, yah saya mengakui kalau saya kucel, kayak nggk pernah mandi... tapi kamu tau apa pekerjaan saya?”

Uang seratus ribu: “Mana saya tau, kamu ya kamu, saya ya saya... bukan urusan saya! Memang apa pekerjaan kamu?”

Uang seribu: “Dengarkan... Saya itu setiap hari kerjanya memberi makan fakir miskin, anak yatim, pokoknya saya dekat dengan kaum dhuafa, karena banyak orang yang memberikan saya untuk penghidupan mereka para kaum dhuafa. Saya dekat dengan masjid bahkan muallaqun bil masajid, karena ada saja orang yang menyumbangkan saya ke dalam kotak amal sehingga saya menjadi bagian penghuni masjid, apalagi kalau sudah hari jum’at. Walaupun saya lecek, kucel dan terkesan seperti belum mandi, tetapi saya bersyukur karena saya berada diantara orang yang bertaqwa. Saya juga bersyukur karena saya tidak pernah dipakai untuk hal keburukan. Tidak seperti kamu, kamu selalu bersama orang yang jauh dari kebaikan.
Lihat saja dirimu, kamu selalu bersama orang-orang yang nongkrong nggk jelas di Mall, mereka menghambur-hamburkan kamu untuk membeli sesuatu yang juga tidak jelas arah maksudnya. Kamu juga selalu bersama para penyelundup alias tukang korup. Lihat saja! banyak pemerintah, pejabat, konglomerat yang menyembunyikan kamu di kantongnya. Kamu juga senantiasa diselipkan dalam pakaian dalam wanita, saat seorang hidung belang telah puas melampiaskan nafsu birahinya... Naudzubillahi min dzalik.
Bandingkan dengan saya, saya tidak pernah disentuh sedikitpun oleh orang-orang seperti itu. Mereka mana mau menyentuh saya yang kumal, dan kucel ini. Saya juga tidak pernah merasakan halusnya kulit wanita, karena saya tidak pernah diselipkan di dalamnya, apalagi melihat tubuh wanita yang mempesona itu. Saya memang tidak pernah merasakan kemewahan, tapi saya beruntung karena saya masih suci dari tangan-tangan tak bertanggung jawab, yang penuh maksiat itu. Sekali lagi saya memang kucel, kumal, tapi dalam diri saya terkandung satu rasa kepuasan tersendiri tanpa berlebih-lebihan.
Saya akui kamu memang istimewa, rupamu yang ganteng, penampilan yang rapi dan apik. Tapi lihat dalam dirimu, kamu sudah tidak suci lagi. Kamu ternodai oleh tangan-tangan usil mereka, dan yang jelas mereka tidak akan puas, kamu juga tidak memiliki kepuasan karena berlebih-lebihan. Secara tidak langsung kamu telah terhinakan. Perhatikan! Kamu dihambur-hamburkan begitu saja, tanpa tau berapa banyak dirimu. Kamu diselipkan dalam pakaian dalam wanita begitu saja, tanpa pernah mereka pikir kalau kamu itu apik dan bersih tampangnya. Kamu disembunyikan dalam kantong-kantong koruptor yang merupakan orang-orang terhina.”


Uang seratus ribu mati kutu, tidak bisa membalas apa-apa. Ia seakan-akan kehilangan seluruh tubuhnya begitu mendengar kata-kata uang seribu yang menggelegar dan menggentarkan dirinya. Ia seakan kecil di hadapan uang seribu yang kumal, kucel dan apa adanya itu. Dia malu dan hanya bisa diam.  
Dari kisah di atas, kita dapat menilik begitu tegasnya kata-kata uang seribu. Uang seribu dengan bangga menyatakan dirinya yang sebenarnya, apa adanya dan berani membeberkan kelakuan uang seratus ribu yang menurutnya tidaklah mencerminkan keistimewaannya. Oleh karenanya jadilah uang seribu dalam hal ini. Mengapa tidak jadi seratus ribu yang lebih besar jumlah nominalnya? Jawabannya kita baca bersama! Kebanyakan orang meremehkan hal yang kecil, sehingga hal yang besar menjadi tumpuan satu-satunya. Padahal pernyataan seperti ini kurang benar, karena hal besar tak akan terjadi tanpa hal kecil. Dimana-mana kita dengar pepatah, “sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit”. Ini membuktikan bahwa hal sekecil apapun janganlah dijadikan pengesampingan. Kisah uang seribu dan uang seratus ribu tadi sudah membuktikan dengan gamblang bahwa kecil tidak berarti kerdil, kecil dapat membuat yang besar menjadi lebih kecil.
Terkadang kita tidak memperhatikan bahwa ada setitik putih dalam sebuah papan tulis hitam misalnya. Itu karena kita hanya melihat kalau papan tulis itu berwarna hitam tanpa melihat ada bekas kapur di dalamnya. Begitu halnya juga dengan uang seribu, kita terkadang membiarkan begitu saja uang seribu yang sudah lusuh tergeletak di jalan. Padahal uang seribu sangat berarti di zaman yang sudah serba bayar ini. Apa-apa bayar, WC umum bayar, penitipan sandal bayar, mau masuk ke terminal bayar, masuk ke tempat rekreasi yang tidak bagus-bagus amat bahkan tidak layak dijadikan tempat rekreasi, bayar juga!. Kalau seperti ini (mungkin) nanti juga lama-lama masuk jalan raya, ikut bayar! layaknya WC umum, penitipan sandal, masuk terminal,  masuk ke tempat rekreasi tadi. Waduh...  jadi bingung ini buat pengeluaran.  Kepriben jadinya dong...
Anda juga harus ingat kisah seekor rayap. Dia itu kecil, tapi dapat meruntuhkan tembok yang dilapisi oleh batu bata. Apalagi hanya sebatas kapal yang terbuat dari bahan kayu. Lagi-lagi ini terjadi lantaran peremehan. Yakni peremehan awak kapal terhadap seekor rayap. Saat persiapan keberangkatan, ada salah seorang awak kapal yang menemukan seekor rayap dalam ruas kapal tersebut. Namun ia membiarkan hidup rayap tersebut tanpa berpikir apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Kemudian di tengah pelayaran mereka (para awak kapal) kewalahan karena banyak dari ruas kapalnya yang bocor, dan kemasukan air. Tanpa waktu yang lama, akhirnya kapal tersebut tenggelam dengan mudahnya lantaran tidak kuat menahan ombak dan badai laut. Ya, lagi-lagi ini karena meremehkan sesuatu yang kecil.
 Bagi kita yang merasa kecil, baik kecil hatinya, kecil badannya, kecil penghasilannya, kecil karena diremehkan dan kecil-kecil lainnya, maka ingat cerita uang seribu dan seratus ribu tadi. Kecil bukan berarti kerdil dan tertinggal. Kita dapat membesarkan diri, seandainya punya kemauan yang keras, pendekatan diri kepada Allah SWT dan usaha yang gigih terus-menerus. Jadilah kecil yang berjiwa besar, yang kecil-kecil cabe rawit. Bukan menjadi besar yang malah tidak dimanfaatkan dengan baik kebesarannya, justru membuat hal buruk dan memperparahnya menjadi semakin tidak terkontrol.
 Ya, itu saja mungkin pesan saya kepada para pembaca sekalian. Anggap saja ini adalah sebuah petuah seseorang yang dekat dengan kita. Jangan pernah sekali-kali berkeinginan menjadi uang seratus ribu yang apik, bersih, rapi, dan ganteng kalau seandainya jiwa kita tidak sesuai dengan kenyataan di luarnya. Jadilah uang seribu yang kecil, tetapi mempunyai sikap, kelakuan dan karakter yang jelas mengarah pada sisi positif, walaupun dari luar nampak kumal, kucel, dan apa adanya. Itupun kita tau kalau uang seribu itu banyak dipegang oleh kalangan dhuafa, sehingga tampangnya pun sesuai dengan pemegangnya. Jadi sudah jelas, jangan remehkan hal kecil! jangan remehkan uang seribu yang kumal, kucel, dan apa adanya.

3 komentar:

Poskan Komentar