Jumat, 15 Maret 2013

0 Man Saroo Ala Darbi Wa Sola; Barangsiapa yang Berjalan di Jalannya, Maka Sampailah Ia


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Man Saroo Ala Darbi Wa Sola; Barangsiapa yang Berjalan di Jalannya, Maka Sampailah Ia

Hidup ini penuh dengan lika-liku yang beragam. Terkadang mengharukan, membahagiakan, menyedihkan, mengheningkan, dan lain sebagainya. Ada dua keadaan dimana baik dan buruk menjadi hiasan dalamnya. Sudah menjadi langganan jika hidup itu dipenuhi dengan kenikmatan, dan sudah semestinya jika hidup diiringi dengan musibah. Tantangan, cobaan hidup, derita, semuanya seperti rerumputan yang menghiasi tanah. Kita memang ditakdirkan untuk melewati hal-hal semacam itu, dengan alasan agar kualitas hidup kita teruji, mumpuni dan mampu menghadapi, apapun yang dihadapi.
Kita tentunya pernah mendengar pepatah ini, man saroo ala darbi wa sola; barangsiapa yang berjalan di jalannya, niscaya dia akan sampai. Erat kaitannya dengan kehidupan ini, kita hidup seperti seorang musafir yang sedang mencapai suatu tujuan. Tujuan kita terpaku pada satu saja, tentunya terkandung dalamnya keistimewaan, kesempurnaan, kenikmatan yang tiada tara (tak tertandingi). Dari awal kita sudah menentukan tujuan kita, untuk memperjelas apa yang mesti kita capai.

Ada hal yang lebih penting daripada sekedar mencapainya, yakni hal yang mesti kita perhatikan, dimana kita seringkali mengabaikannya sebagai anggapan atas suatu itikad yang muncul dari dalam diri kita. Kita selalu menggunakan nafsu dalam menentukan bahkan mengklaim sesuatu. Bila kondisi pertama kali sudah seperti ini, maka jangan pernah menyalahkan jika nantinya jalan yang kita tempuh bukanlah jalan yang mengarahkan pada sesuatu yang diinginkan diri sendiri bahkan bersama. Jalan yang kita tempuh, penentuannya adalah dari awal, dari saat pertama kali kita menapakkan jalan. Kalau ketentuan jalan, kesepakatan bathiniyah, ketetapan akal pikiran kita sudah benar, maka perjalanan kita akan melalui jalan yang sesuai dan benar.
Man saroo ala darbi wa sola; barangsiapa yang berjalan di jalannya maka sampailah ia... pepatah arab ini syarat dengan apa yang sebenarnya menjadi kendala hidup. Kendala hidup kita kebanyakan terdapat dalam sektor kepribadian kita yang selalu melenceng dari ruas jalan. Ibarat seorang yang ingin pergi ke Jakarta dari arah Bogor, maka jalan yang ditempuh oleh seorang itu adalah jalan yang tidak sesuai dengan jalur yang mengarah ke Jakarta. Ia malah melewati jalan yang arah tujuannya ke Banten, ke Sukabumi dan arah lain yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Maka akibatnya ia akan nyasar, tidak akan sampai pada tujuannya. Seperti itulah posisi kita sekarang, tersesat dari lajur utama.
Berjalan sesuai dengan jalannya, maka akan sampai pada tujuan. Kita hidup di alam liar ini, ada banyak jalurnya. Dan tiap jalur tersebut ada halangan dan tantangan masing-masing. Kita akan memilih yang mana? Lewat mana? Dan mampukah melewatinya? Ditanya masalah memilih, tentu saja yang ada dalam benak awal kita adalah jalan tersebut sedikit tantangannya, gampang dilewati, dan penuh dengan kesenangan semata. Tetapi adakah jalan menuju kesuksesan itu melalui jalan yang sedikit tantangannya, gampang dilewati, dan penuh dengan kesenangan semata? Jelas tidak ada kamusnya.
Ditanya masalah melewati yang mana, kebanyakan dari kita justru ingin memilih jalan yang ringan-ringan saja, seperti melewati angin sepoi-sepoi. Ini jelas pikiran-pikiran dari mental-mental orang pemalas, dan orang yang pemalas tidak akan mencapai hal-hal menakjubkan seperti meraih kesuksesan. Orang yang dapat melewati jalan terjal, tantangan yang berat, dan halangan yang berliku hanyalah orang yang punya kemauan untuk mencapai jalan yang sesuai dengan hati nuraninya, bukan orang yang hanya bermalas-malasan.
Tentunya kita ingin mencapai hasil yang gemilang dan membanggakan. Maka aplikasikan pepatah ini sebagaimana mestinya, dengan harapan agar sesuai dengan jalan yang ditempuh dan selaras dengan tujuan yang akan kita gapai. Wa allahu alami bis showab... 
   


0 komentar:

Poskan Komentar